TEORI DESA WISATA




Berikut adalah beberapa pengertian dari beberapa aumber dengan obyek penelitian ini:

     a.Fennel (2003)

      Pariwisata didefenisikan sebagai sistem yang saling terkait yang mencakup wisatawan dan jasa terkait yang yang disediakan serta dimanfaatkan (fasilitas, atraksi, transportasi dan akomodasi) untuk menyokong kegiatan mereka.

   b. Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan

ü  Wisata adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribasi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

ü  Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.

ü  Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

ü  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesame wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.

c.       Pendit (2003)

Pariwisata adalah salah satu jenis industry baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sector-sektor produktif lainnya. Selanjutnya sebagai sector yang kompleks, industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan, cinderamata, penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai industri.

Konsep dan definisi tentang pariwisata, wisatawan serta klasifikasinya perlu ditetapkan dikarenakan sifatnya yang dinamis.Dalam kepariwisataan, menurut Leiper dalam Cooper et.al (1998:5) terdapat tiga elemen utama yang menjadikan kegiatan tersebut bisa terjadi. Kegiatan wisata terdiri atas beberapa komponen utama.

1.      Wisatawan

la adalah aktor dalam kegiatan wisata.Berwisata menjadi sebuah pengalaman manusia untuk menikmati, mengantisipasi dan mengingatkan masa-masa di dalam kehidupan.

2.      Elemen geografi

Pergerakan wisatawan berlangsung pada tiga area geografi, seperti berikut ini.

a.       Daerah Asal Wisatawan (DAW)

Daerah tempat asal wisatawan berada, tempat ketika is melakukan aktivitias keseharian, seperti bekerja, belajar, tidur dan kebutuhan dasar lain. Rutinitas itu sebagai pendorong untuk memotivasi seseorang berwisata. Dari DAW, seseorang dapat mencari informasi tentang obyek dan days tarik wisata yang diminati, membuat pemesanan dan berangkat menuju daerah tujuan.

b.      Daerah Transit (DT)

Tidak seluruh wisatawan harus berhenti di daerah itu. Namun, seluruh wisatawan pasti akan melalui daerah tersebut sehingga peranan DT pun penting. Seringkali terjadi, perjalanan wisata berakhir di daerah transit, bukan di daerah tujuan. Hal inilah yang membuat negara-negara seperti Singapura dan Hong Kong berupaya menjadikan daerahnya multifungsi, yakni sebagai Daerah Transit dan Daerah Tujuan Wista.

c.       Daerah Tujuan Wisata (DTW)

Daerah ini sering dikatakan sebagai sharp end (ujungjtombak) pariwisata. Di DTW ini dampak pariwisata sangat dirasakan settingga dibutuhkan perencanaan dan strategi manajemen yang tepat. Untuk menarik wisatawan, DTW merupakan pemacu keseluruhan sistem pariwisata dan menciptakan permintaan untuk perjalanan dari DAW. DTW juga merupakan raison d’etre atau alasan utama perkembangan pariwisata yang menawarkan hal-hal yang berbeda dengan rutinitas wisatawan.

3.      Industri pariwisata

Elemen ketiga dalam sistem pariwisata adalah industri pariwisata. Industri yang menyediakan jasa, daya tank, dan sarana wisata. Industri yang merupakan unit-unit usaha atau bisnis di dalam kepariwisataan dan tersebar di ketiga area geografi tersebut.Sebagai contoh, biro perjalanan wisata bisa ditemukan di daerah asal wisatawan, Penerbangan bisa ditemukan balk di daerah asal wisatawan maupun di daerah transit, dan akomodasi bisa ditemukan di daerah tujuan wisata.

Pariwisata merupakan kegiatan yang dapat dipahami dari banyak pendekatan. Dalam Undang-undang RI nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan dijelaskan bahwa:

a.      Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tank wisata yang dikunjungi, dalam jangka waktu sementara.

b.      Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.

c.       Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah.

d.      Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujudkebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha.

e.      Usaha pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata.

f.        Pengusaha pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan usaha pariwisata.

g.      Industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.

Menurut WTO (1999:5) yang dimaksud dengan:

a.      Tourism – activities of persons traveling to and staying in places outside their usual environment for not more than one consecutive year for leisure, business and other purposes; Pariwisata dapat diartikan sebagai kegiatan manusia yang melakukan perjalanan ke dan tinggal di daerah tujuan di luar lingkungan kesehariannya. Perjalanan wisata ini berlangsung dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun secara berturut-turut untuk tujuan bersenang-senang, bisnis dan lainnya.

b.      Visitor – any person traveling to a place other than that of his/her usual environ-ment for less than 12 consecutive months and whose main purpose of travel is not to work for pay in the place visited; Dapat diartikan pengunjung adalah siapa pun yang melakukan perjalanan ke daerah lain di luar dari lingkungan kesehariannya dalam jangka waktu tidak lebih dari 12 bulan berturut-turut dan tujuan perjalanan tidak untuk mencari nafkah di daerah tersebut.

c.       Tourist – overnight visitor, visitor staying at least one night In a collective or private accommodation in the place visited;

Wisatawan merupakan pengunjung yang menginap atau pengunjung yang tinggal di daerah tujuan setidaknya satu malam di akomodasi umum ataupun pribadi.

d.      Same day visitor – excursionists,visitor who does not spend the night in a collective or private accommodation in the place visited;

Pengunjung harian adalah ekskurionis, pengunjung yang tidak bermalam di akomodasi umum atau pribadi di daerah tujuan.

Definisi-definisi itu menjabarkan unsur-unsur penting dalam kepariwisataan seperti berikut ini.

1.      Jenis aktivitas yang dilakukan dan tujuan kunjungan

2.      Lokasi kegiatan wisata

3.      Lama tinggal di daerah tujuan wisata

4.     Fasilitas dan pelayanan yang dimanfaatkan yang disediakan oleh usaha pariwisata.

Pelancong/pemudik/traveller adalah istilah yang diberikan bagi seseorang yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Jika is melakukan perjalanan untuk tujuan wisata, maka dihitung sebagai pengunjung (visitor) dalam statistik pariwisata. UN-WTO lebih lanjut mengilustrasikan pariwisata dalam bagan berikut ini.

Pariwisata adalah kunjungan ke tempat-tempat yang menarik, dengan tujuan untuk rekreasi, memperdalam ilmu pengetahuan, atau melaksanakan pekerjaan. Orang yang melakukan pariwisata disebut turis atau wisatawan. Wisatawan yang berasal dari dalam negeri disebut wisatawan domestik atau wisatawan Nusantara. Wisatawan yang berasal dari luar negeri disebut wisatawan asing atau wisatawan mancanegara.

Tempat-tempat yang dijadikan sebagai tujuan wisata disebut objek wisata.
Objek wisata dibedakan menjadi tiga macam sebagai berikut.

1.      Objek wisata alam, antara lain pemandangan alam pegunungan, cagar alam, danau, pantai, kawah gunung api, sumber air panas, flora, dan fauna.

2.      Objek wisata rekreasi, antara lain kolam luncur, kolam renang, waduk, dan taman rekreasi.

3.      Objek wisata budaya, antara lain benteng kuno, masjid kuno, gereja kuno, museum, keraton, monumen, candi, kesenian daerah, rumah adat, dan upacara adat.

a.      Pariwisata budaya, seperti kunjungan ke candi, masjid agung, museum, dan keraton.

b.      Pariwisata olahraga, seperti mendaki gunung, berenang di pantai, dan mendayung di telaga.

c.       Pariwisata untuk menikmati perjalanan atau pariwisata petualangan, seperti menjelajah rimba, mengarungi samudera, dan napak tilas.

d.      Pariwisata yang hanya untuk tujuan rekreasi, seperti kunjungan ke taman rekreasi dan pantai.

e.      Pariwisata sambil mengadakan pertemuan atau konferensi, seperti konferensi PATA dan KTT ASEAN yang dilaksanakan di Bali.

f.        Pariwisata sambil berdagang.

Faktor-faktor pendukung pariwisata di Indonesia sebagai berikut.

1.       Memiliki banyak objek pariwisata di berbagai daerah.

2.       Memiliki alam yang sangat indah.

3.      Memiliki berbagai peninggalan sejarah pada masa lalu.

4.      Memiliki berbagai budaya yang unik.

5.      Rakyat yang ramah tamah.

Manfaat pariwisata sebagai berikut.

1.       Menciptakan lapangan kerja.

2.       Meningkatkan penghasilan bagi masyarakat, baik dari pelayanan jasa maupun dari penjualan barang cinderamata.

3.      Meningkatkan pendapatan negara.

4.      Mendorong pembangunan daerah.

5.      Menanamkan rasa cinta tanah air dan budaya bangsa.

            Salah satu yang menjadi suatu bentuk kegiatan ekowisata pada kawasan tertentu yang melibatkan masyarakat lokal setempat adalah desa wisata. Menurut Priasukmana & Mulyadin (2001), Desa Wisata merupakan suatu kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaaan baik dari kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta mempunyai potensi untuk dikembangkanya berbagai komponen kepariwisataan, misalnya atraksi, akomodasi, makanan-minuman, cindera-mata, dan kebutuhan wisata lainnya.

            Desa wisata biasanya berupa kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus yang layak untuk menjadi daerah tujuan wisata. Dikawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relative masih asli. Selain itu, beberapa faktor pendukung seperti makanan khas, sistem pertanian dan sistem sosial turut mewarnai sebuah kawasan desa wisata. Di luar faktor-faktor tersebut, sumberdaya alam dan lingkungan alam yang masih terjaga merupakan salah satu faktor penting dari sebuah kawasan desa wisata.

            Selain berbagai keunikan tersebut, kawasan desa wisata juga dipersyaratkan memiliki berbagai fasilitas untuk menunjangnya sebagai kawasan tujuan wisata. Berbagai fasilitas ini akan memudahkan para pengunjung desa wisata dalam melakukan kegiatan wisata. Fasilitas-fasilitas yang seyogyanya ada disuatu kawasan desa wisata antara lain : sarana transportasi, telekomunikasi, kesehatan, dan akomodasi. Khusus untuk sarana akomodasi, desa wisata dapat menyediakan sarana penginapan berupa pondok-pondok wisata (Home Stay) sehingga para pengunjung dapat merasakan suasana pedesaan yang masih asli.

            Menurut Priasukmana dan Mulyadin (2001), penetapan suatu desa dijadikan sebagai desa wisata harus memenuhi persyaratan-persyaratan, antara lain sebagai berikut :

1.       Aksesibilitasnya baik, sehingga mudah dikunjungi wisatawan dengan menggunakan berbagai jenis alat transportasi.

2.       Memiliki obyek-obyek menarik berupa alam, seni budaya, legenda, makanan lokal, dan sebagainya untuk dikembangkan sebagai obyek wisata.

3.      Masyarakat  dan aparat desanya menerima dan memberikan dukungan yang tinggi terhadap desa wisata serta para wisatawan yang datang kedesanya.

4.      Keamanan di desa tersebut terjamin.

5.      Tersedia akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai.

6.      Beriklim sejuk atau dingin.

7.      Berhubungan dengan obyek wisata lain yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.

Pembangunan desa wisata juga memiliki manfaat ganda bagi berbagai macam bidang yaitu :

1.       Ekonomi, meningkatkan perekonomian nasional, ragional, dan masyarakat lokal.

2.       Sosial, membuka lapangan kerja dan lapangan berusaha bagi masyarakat di desa.

3.      Politik, dari sisi internasional adalah menjembatani perdamaian antar bangsa didunia dan dari sisi nasional untuk memperkokoh persatuan bangsa, mengatasi disintegrasi.

4.      Pendidikan, keberadaan desa wisata dapat memperluas wawasan dan cara berpikir orang-orang desa, mendidik cara hidup bersih dan sehat.

5.      Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), meningkatkan ilmu dan teknologi bidang kepariwisataan.

6.      Sosial budaya, keberadaan desa wisata dapat menggali dan mengembangkan kesenian serta kebudayaan asli daerah yang hamper punah untuk dilestarikan kembali.

7.      Lingkungan, dapat menggugah sadar lingkungan yaitu menyadarkan masyarakat akan arti pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan bagi kehidupan manusia kini dan di masa datang.

Manfaat ganda di atas tidak dapat tercapai dengan baik tanpa adanya peran serta pihak-pihak terkait dalam mengembangkan desa wisata. Oleh karena itu, diperlukan kunci sukses pembangunan desa wisata yaitu :

1.       Pembangunan Sumber daya manusia (SDM)

Pelaksanaan pembangunan sumber daya manusia (SDM), bisa dilakukan melalui pendidikan, pelatihan dan keikutsertaan dalam seminar, diskusi dan lain sebagainya, serta di bidang-bidang kepariwisataan. Hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan yang diberikan kepada generasi muda bagaimana menerima dan melayani wisatawan yang baik, keikutsertaan penduduk setempat pada seminar atau diskusi dalam rangka menambah pengetahuan untuk kegiatan usaha yang mereka lakukan seperti kerajinan, industry rumah tangga, pembuatan makanan lokal, budi daya jamur, cacing, menjahit, dan lain sebagainya.

2.       Kemitraan

Adanya kerjasama yang saling menguntungkan antara pihak pengelola desa wisata dengan para pengusaha pariwisata di kota atau pihak dinas pariwisata daerah dalam bidang-bidang usaha yaitu bidang akomodasi, perjalanan, promosi, pelatihan, dan lain-lain.

3.      Kegiatan pemerintahan di desa

Kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah desa, antara lain seperti rapat-rapat dinas, pameran pembangunan, dan upacara-upacara hari-hari besar diselenggarakan di desa wisata.

4.      Promosi

Desa wisata harus sering dipromosikan melalui berbagai media, oleh karena itu desa atau kabupaten harus sering mengundang wartawan dari media cetak maupun elektronik untuk kegiatan tersebut.

5.      Festival/pertandingan

Secara rutin di desa wisata perlu diselenggarakan kegiatan-kegiatan yang bisa menarik wisatawan atau penduduk desa lain untuk mengunjungi desa wisata tersebut, misalnya mengadakan festival kesenian, pertandingan olahraga, dan lain sebagainya.

6.      Membina organisasi warga

Penduduk desa biasanya banyak yang merantau ditempat lain. Mereka juga bisa diorganisir dan dibina untuk memajukan desa wisata mereka melalui organisasi kemasyarakatan atau desebut “warga”, yaitu ikatan keluarga dari satu keturunan yang hidup terpencar, mereka tersebut bertujuan ingin mengeratkan kembali tali persaudaraan diantara keturunan mereka. Fenomena kemasyarakatan semacam ini perlu didorong dan dikembangkan untuk memajukan desa wisata.

7.      Kerjasama dengan universitas

Universitas-universitas di Indonesia mensyaratkan melakukan kuliah kerja praktek lapangan bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya. Sehubungan dengan itu sebaiknya dijalin kerjasama antara desa wisata dengan universitas yang ada, agar bisa  memberikan masukan dan peluang bagi kegiatan di desa wisata untuk meningkatkan pembangunan desa wisata tersebut.

    Untuk memperkaya obyek dan tujuan wisata di suatu desa wisata, dapat dibangun berbagai fasilitas dan kegiatan sebagai berikut :

1.       Eco-lodge, yaitu renovasi homestay agar memenuhi persyaratan akomodasi wisatawan, atau membangun guest house berupa, bamboo house, tradisional house, log house, dan lainnya.

2.       Eco-recreation, yaitu kegiatan pertanian, pertunjukan kesenian lokal, memancing ikan di kolam, jalan-jalan di desa (hiking), biking di desa dan lain sebagainya.

3.      Eco-education, yaitu mendidik wisatawan mengenai pendidikan lingkungan dan memperkenalkan flora dan fauna yang ada di desa yang bersangkutan.

4.      Eco-research, yaitu meneliti flora dan fauna yang ada didesa, dan mengembangkan produk yang dihasilkan di desa tersebut, dan sebagainya.

5.      Eco-energy, yaitu membangun sumber energy tenaga surya atau tenaga air untuk eco-lodge.

6.      Eco-development, yaitu menanam jenis-jenis pohon yang buahnya untuk makanan burung atau binatang liar, tanaman hias, tanaman obat,dll agar bertambah populasinya.

7.      Eco-promotion, yaitu promosi melalui media cetak atau elektronik, dengan mengundang wartawan untuk meliputi mempromosikan kegiatan desa wisata.

  Desa wisata merupakan suatuwilayah perdesaan yang dapatdimanfaatkan berdasarkan kemampuanunsur-unsur yang memiliki atribut produkwisata secara terpadu, dimana desatersebut menawarkan secara keseluruhaansuasana yang memilikan tema denganmencerminkan keaslian pedesaan, baikdari tatanan segi kehidupan sosial budayadan ekonomi serta adat istiadat keseharianyang mempunyai cirikhas arsitektur dantata ruang desa menjadi suatu rangkaianaktivitas pariwisata (www.wikipedia.org,2010). Sedangkan Nuryanti (1993)berpendapat bahwa desa wisata merupakansuatu bentuk integrasi tantara atraksi,akomodasi, dan fasilitas pendukung yangdisajikan dalam suatu struktur kehidupanmasyarakat yang menyatu dengan tatacaradan tradisi yang berlaku.Ditjenpar (1999) dalam Arlini(2003) mendefinisikan desa wisata sebagai suatu wilayah perdesaan yang menawarkankeseluruhan suasana yang mencerminkankeaslian pedesaan, arsitektur bangunan dantata ruang desa, serta mempunyai potensi untuk dikembangkan berbagai komponenkepariwisataan, misalnya atraksi wisata makanan dan minuman, cinderamata, penginapan, dan kebutuhan lainnya.

Menurut nuryanti (1993), terdapat tiga konsep utama dalam komponen desa wisata yaitu :

1.       Akomodasi

Sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan unit-unit berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.

2.       Atraksi

Seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipan aktif seperti kursus tari, bahasa dan lain-lain yang spesifik. Dan yang ketiga adalah keindahan alam, keunikan dan kelangkaan.

3.      Keindahan alam, keunikan dan kelangkaan desa wisata itu sendiri.

Tabel Kajian Teori Komponen Desa Wisata

No

Sumber Teori

Komponen Desa Wisata

1

Gumelar (2010)

1.       Keunikan, keaslian, sifat khas

2.       Letaknya berdekatan dengan daerah alam yang luar biasa

3.       Berkaitan dengan kelompok atau masyarakat berbudaya yang secara hakiki menarik minat pengunjung

4.      Memiliki peluang untuk berkembang baik dari sisi prasarana dasar, maupun sarana lainnya.

2

Putra (2006)

1.       Memiliki potensi pariwisata, seni, dan budaya khas daerah setempat.

2.       Lokasi desa masuk dalam lingkup daerah pengembangan pariwisata atau setidaknya berada dalam koridor dan rute paket perjalanan wisata yang sudah dijual.

3.      Diutamakan telah tersedia tenaga pengelola, pelatih, dan pelaku–pelaku pariwisata, seni dan budaya.

4.      Aksesibilitas dan infrastruktur mendukung program Desa Wisata.

5.      Terjaminnya keamanan, ketertiban, dan kebersihan.

3

Prasiasa (2011)

1.       Partisipasi masyarakat lokal

2.       Sistem norma setempat

3.      Sistem adat setempat

4.      Budaya setempat

Tabel Pengembangan Desa Wisata

No

Sumber Teori

Komponen Desa Wisata

1

Gumelar (2010)

1.       memanfaatkan sarana dan prasarana masyarakat setempat.

2.       menguntungkan masyarakat setempat. berskala kecil.

3.      melibatkan masyarakat setempat.

4.      menerapkan pengembangan produk wisata pedesaan.

2

Putra (2006)

1.       Pariwisata terintegrasi dengan masyarakat

2.       Menawarkan berbagai atraksi khas

3.      Akomodasi berciri khas desa setempat.

   Dalam pengembangan desa wisata sebagai obyek wisata perlu dipahami sejak awal bila masyarakat setempat bukan sebagai obyek pasif namun justru sebagai subyek aktif. Sebuah lingkungan perdesaan dapat dipandang sebagai obyek sekaligus sebagai subyek wisata. Sebagai obyek artinya desa tersebut merupakan tujuan kegiatan pariwisata sedangkan sebagai subyek adalah sebagai penyelenggara, apa yang dihasilkan oleh desa akan dinikmati oleh masyarakatnya secara langsung dan peran aktif masyarakat sangat menentukan kelangsungannya (Soebagyo, 1991 dalam Raharjana, 2005). Dalam pelaksanaan pariwisata berbasis komunitas khususnya bagi pengembangan desa wisataa, beberapa persoalan yang harus dipertimbangkan adalah partisipasi, pengambilan keputusan, pembangunan kapasitas masyarakat, dan akses ke pasar wisata. Dalam menyususn konsep kerja pembangunan sebuah desa menjadi desa wisata dapat dicapai melalui dua pendekatan yaitu:

1.       Pendekatan Pasar untuk Pengembangan Desa Wisata

a.      Interaksi tidak langsung

Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan misalnya, penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, dan sebagainya

b.      Interaksi setengah langsung

Bentuk-bentuk one way trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatankegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya.

c.       Interaksi langsung

Wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat.

2.       Pendekatan Fisik Pengembangan Desa

WisataPendekatan ini merupakan solusiyang umum dalam mengembangkansebuah desa melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam mengontrol perkembangandan menerapkan aktivitas konservasi.

a.      Mengkonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum desa untuk menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut.

b.      Mengkonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk menampung perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata.

c.       Mengembangkan bentukbentuk akomodasi didalam wilayah desa tersebut yang dioperasikan oleh penduduk desa sebagai industri skala kecil.

            Pengaruh sosial ekonomi dapat diartiakan sebagai suatu perubahan yang timbul akibat adanya kegiatan yang mempengaruhi lingkungan sosial ekonomi, baik dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, dan kesejahteraan. Gillmore (1981 dalam Rahma, 2010) mengatakan bahwa dampak sosial sangat sukar untuk dipahami karena kasus di suatu wilayah akan berbeda dengan wilayah lainnya.

            Hubungan sosial adalah suatu hubungan antar orang atau kelompok pada kondisi masyarakat yang dilandasi oleh sistem nilai dan makna simbol. Dalam bentuk dinamis, hubungan sosial akan berbentuk interaksi sosial antar individu dan kelompok dalam komunitas tersebut. Terbentuknya sistem hubungan sosial dalam suatu masyarakat senantiasa dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungannya, meliputi lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Karena itu dinamika perubahan kondisi-kondisi lingkungan tersebut senantiasa juga mempengaruhi dinamika perubahan sistem hubungan sosial yang berlaku pada suatu masyarakat disamping dipengaruhi pula oleh kondisi jumlah populasi pada masyarakat yang bersangkutan.

Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *