Karangan Pribadi Jacko Ryan

Standar

Sampai saat ini, globalisasi nampaknya sudah menjadi sebuah fenomena yang mendunia. Dalam segi etimologis, kata “globalisasi” berakar dari kata global. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian bahwa global adalah sebuah hal yang umum, keseluruhan, saling bersangkut paut dan meluas ke seluruh dunia[1]. Globalisasi juga bisa diartikan sebagai suatu proses menuju dunia global atau sebuah proses yang mendunia sehingga membuat dunia saling terintegrasi dan terkoneksi satu sama lain tanpa batas. Hal ini membuat globalisasi menjadi sebuah “gerakan” dengan dampak serta manfaat yang besar.

Roland Robertson[2] menyebutkan bahwa globalisasi hadir lewat proses yang disebut glokalisasi. Glokalisasi dimaknai sebagai adanya pola keterkaitan antara proses globalisasi dan lokalisasi sehingga dapat disimpulkan bahwa proses-proses global dipengaruhi oleh penerapan, tafsiran dan adaptasi yang bersifat lokal. Lebih lanjut, Robertson menjelaskan bahwa globalisasi memiliki dua sifat, yakni sifat penyempitan dan perluasan. Sifat penyempitan adalah dimana globalisasi membuat dunia semakin sempit secara insentif dan di satu sisi terjadi juga perluasan kesadaran manusia untuk meningkatkan koneksi yang bersifat global.

Berbagai media sosial hadir untuk mewadahi proses globalisasi yang berjalan itu. Sebut saja media sosial seperti Facebook, Youtube, Instagram, Google+ dan Line[3] sangat mewarnai linimasa globalisasi komunikasi dan teknologi karena sifatnya yang begitu universalis di Indonesia terutama pada kalangan kaum muda. Kehadiran berbagai media sosial telah membawa kepada perubahan ke arah penyertaan masyarakat yang lebih bersifat dalam jaringan (online).

Globalisasi dan Internet

Kehadiran dan kemajuan media sosial di Indonesia salah satunya terjadi karena proses globalisasi. Berbagai survey menyebutkan bahwa pengunaan internet di Indonesia telah mencapai angka 55 juta pada 2011 (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2011). Indonesia juga menduduki peringkat nomor empat sebagai pengguna Facebook terbesar di dunia (Socialbakers, 2012). Data statistik dari Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia[4] tahun 2016 menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia berdasarkan usia 10-34 tahun mencapai 42,8% dari seluruh jumlah pengguna internet. Artinya bahwa, kegiatan lalu lintas dalam jaring (daring) masih di dominasi oleh kelompok usia-usia muda.

Melalui survei yang dirilis oleh Asosiasi Jasa Internet Indonesia (APJII)[5] mengungkapkan bahwa ada 132,7 juta pengguna internet di Indoneisa. Meningkat tajam dari hasil survei pada tahun 2014 dimana pengguna internet di Indonesia hanya mencapai 88 juta pengguna. 132,7 juta pengguna masih didominasi oleh pekerja / wiraswasta (sebesar 82,2 juta) dan ibu rumah tangga sebesar 22 juta pengguna.

Berbagai survey itu kemudian dapat menimbulkan kekhawatiran Indonesia akan masuk ke dalam zaman technopoly. Technopoly[6] adalah istilah yang disebutkan oleh Neil Postman untuk menyebutkan suatu budaya dimana masyarakat mendewakan teknologi dan teknologi tersebut sebagai pengontrol semua aspek kehidupan. Masyarakat pada zaman technopoly juga akan menganggap teknologi sebagai sarana penciptaan rasa aman dan selamat sehingga, menurut Postman, tradisi, adat istiadat, politik, dan agama harus kehilangan esensinya karena telah digantikan oleh peran ketergantungan masyarakat akan media teknologi. Di sisi lain, hal ini justru menimbulkan dampak positif dimana internet memberikan berbagai macam kemudahan bagi masyarakat dan pembisnis dan merupakan media elektronik yang dapat membantu pengembangan e-commerce.

Traveloka dan Kebutuhan Masyarakat

Traveloka adalah perusahaan yang menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat, hotel, tiket aktivitas & rekreasi, tiket kereta api, pulsa pascabayar dan internet secara dalam jaringan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2012 oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang. Sebagai salah satu e-commerce yang paling besar di Indonesia, Traveloka tentunya terus berkembang menjadi sarana pemenuhan kebutuhan masyarakat zaman ini.

E-Commerce sendiri merupakan proses berbisnis dengan menggunakan teknologi elektronik yang dapat menghubungkan antara perusahaan, konsumen dan masyarakat dalam bentuk transaksi elektronik. Hal ini tentu dipandang lebih efektif dan responsif akan kebutuhan masyarakat zaman ini karena dari hasil survei diatas tadi, sebagian masyarakat di Indonesia sudah menggunakan smartphone yang dapat dengan mudah mengakses internet.

Traveloka: Layanan Isi Pulsa dan Paket Internet

Tuntutan globalisasi yang berdampak pada penggunaan smartphone dan internet yang semakin hari, semakin meningkat di Indonesia sehingga kebutuhan masyarakat akan pulsa dan paket internet juga pasti akan melambung tinggi. Maka dari itu, traveloka juga hadir dengan layanan isi pulsa dan paket internet.

Mungkin banyak dari pengguna internet yang masih merasa takut untuk melakukan transaksi dalam jaringan karena resiko yang harus ditanggung sangatlah tinggi. Adapun masalah lainnya mengapa banyak pengguna internet menghindarinya juga karena penipuan dengan cara pencurian identitas dan membohongi pelanggan dan hukum yang kurang berkembang dalam bidang e-commerce.

Disinilah kelebihan yang ditawarkan oleh Traveloka selaku penyedia layanan isi pulsa dan paket internet karena bertransaksi di Traveloka, pembeli tidak perlu khawatir dengan sistem keamanannya. Data pribadi pembeli tentunya akan tetap terjaga dan dijamin tak akan bocor ke pihak mana pun tanpa sepengetahuan pembeli. Hal ini karena Traveloka adalah sebuah perusahaan besar yang memiliki kredibilitas yang tinggi sehingga Traveloka menjamin pulsa dan paket internet diterima dalam waktu singkat setelah pembayaran selesai diverifikasi. Di satu sisi, pembeli juga dilindungi haknya oleh Undang-Undang Perlindungan konsumen (Consumer Protection Law) apabila terjadi kebocoran data pribadi pembeli akibat transaksi pembelian di Traveloka.

Kelebihan yang ditawarkan oleh Traveloka juga berbagai pembelian pulsa dan paket internet dengan mudah dapat dilakukan melalui smartphone. Konsumen tinggal hanya membuka aplikasi Traveloka, pilih kategori pulsa dan internet, masukkan nomor telepon yang dituju, pilih jumlah nominal pulsa ataupun jenis paket internet yang ingin dibeli, isi detail pemesanan kemudian melakukan pembayaran dengan banyak opsi pilihan, antara lain: transfer, pembayaran melalui ATM, kartu kredit, CIMB Clicks, Mandiri Clickplay, E-Cash, BCA Clickpay dan Mandiri Debit. Kemudahan ini tentunya dapat memudahkan pembeli untuk dapat membeli pulsa maupun paket internet dimanapun dan kapanpun. Kemudahan ini pun sekaligus menjawab berbagai keraguan pembeli yang tidak mau melakukan transaksi melalui internet banking. Dalam hal pembayaran paket pulsa dan internet ytang dibeli, Traveloka tentunya sudah bekerjasama dengan banyak bank ternama di Indonesia sehingga tak hanya keamanan konsumen dalam bertransaksi dapat terjaga, melainkan proses pembayaran yang harus dilakukan pembeli dapat dilakukan semakin mudah, nyaman dan aman.

Keunggulan lainnya adalah layanan isi pulsa dan paket internet mencakup semua provider unggulan di Indonesia sehingga pembeli tak perlu khawatir ketidaksediaan pulsa dan paket internet sesuai provider yang digunakan. daftar provider seluler yang tersedia di Traveloka App antara lain: Axis, Bolt, IM3 Ooredoo, Kartu As, Mentari Ooredoo, Simpati, Smartfren, TRI (3), XL. Keunggulan lainnya yang dapat dirasakan pembeli adalah aplikasi Traveloka bisa secara langsung mendeteksi provider yang pembeli gunakan dengan memasukkan nomor telepon yang dituju sehingga dapat meminimalisir terjadinya kesalahan yang dapat menyebabkan pulsa atau paket internet yang dibeli tidak sampai kepada konsumen.

Keunggulan lainnya dan yang seringkali menjadi hal utama yang diperhatikan oleh pembeli atau konsumen yakni mengenai harga. Harga yang ditawarkan oleh Traveloka untuk pembelian pulsa dan paket internet bisa dikategorikan lebih murah, bahkan harga jualnya dibawah jumlah nominal pulsa yang ditawarkan. Bukan cuma murah, Traveloka juga menampilkan harga yang jujur, artinya, Harga yang ditampilkan ke konsumen adalah harga yang sudah final, gratis biaya transaksi dan tanpa biaya tersembunyi yang dapat merugikan masyarakat.

Pada hakikatnya, kepuasan pelanggan selalu berkaitan dengan pelayanan yang diberikan. Dua hal yang menjadi sorotan yakni harapan pelanggan terhadap kualitas layanan (expected quality) dan penilaian konsumen terhadap kualitas layanan yang diberikan (perceived quality). Kepuasan pelanggan tersebut tentunya dapat dikategorikan sebagai ungkapan tentang persepsi dan harapan konsumen terhadap layanan suatu perusahaan. Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan, tentunya Traveloka terus berkembang memberikan yang terbaik bagi pembeli dan konsumennya dengan terus memperhatikan kualitas layanannya agar mendapat penilaian yang baik dari pengguna jasanya dan konsumen semakin terbantu dengan hadirnya Traveloka pada era global ini.

 

[1] https://kbbi.web.id/global

[2] Ibrahim, Idi Subandy, dkk. 2014. Komunikasi dan Komodifikasi: Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

[3] 5 Top Buzz Rankings Social Media di Indonesia tahun 2016 berdasar Brand Index (http://www.brandindex.com/ranking/indonesia/2016-annual/category/internet-social-media)

[4] https://statistik.kominfo.go.id/site/data?idtree=424&iddoc=1517

[5] https://apjii.or.id/content/read/39/264/Survei-Internet-APJII-2016

[6] Postman, Neil. 2011. Technopoly: The Surrender of Culture to Technology. New York: Vintage Books

Standar

Orasi Graduation SMA Kolese Gonzaga Angkatan XXVIII*

Sabtu, 6 Mei 2017

“Ducere cum Ceteris Mittimur”

(Kami Diutus untuk Memimpin dalam Kebersamaan)

oleh:

Jacko Ryan

Yang saya hormati,

  1. Romo Drs. Emmanuel Baskoro Poedjinugroho, SJ., MA. (Delegatus Educationis Serikat Yesus Indonesia)
  2. Romo Dr. (cand.) Adrianus Andy Gunardi, SS., MA., CHT. (Rektor SMA Kolese Gonzaga)
  3. Romo Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ., MPS. (Pater Superior Komunitas SMA Kolese Gonzaga)
  4. Romo Leonardus Evert Bambang Winandoko, SJ., SS., M.Theo., M.Ed. (Direktur SMA Kolese Gonzaga)
  5. Romo Antonius Vico Christiawan, SJ., SS., M.Theo. (Pater Moderator SMA Kolese Gonzaga)
  6. serta frater, bruder, dan suster (menyesuaikan)
  7. Bapak / ibu guru SMA Kolese Gonzaga
  8. Para orang tua murid dan wali
  9. Serta para rekan komunitas SMA Kolese Gonzaga yang saya kasihi.

Selamat sore, (menyesuaikan)

Puji dan syukur kita haturkan ke hadirat-Nya, bahwa dalam kebersamaan ini, kita dapat hadir dengan perasaan sukacita untuk mengikuti acara wisuda angkatan 28 SMA Kolese Gonzaga. Perkenalkan, saya Jacko Ryan, kelas XII S1/19, mewakili para wisudawan/wisudawati dalam memberikan sambutan dan refleksi atas ‘perjalanan panjang’ yang sudah ditempuh di SMA Kolese Gonzaga tercinta ini.

Berubah, mungkinkah? ditengah kenyamanan dan kebersamaan kita yang begitu erat di Kolese Gonzaga ini, apakah memungkinkan kita untuk berubah dan meninggalkan tempat ini? ya, mungkin sulit. Kesulitan dan kegalauan yang sama juga yang digambarkan Ajip Rosidi dalam puisinya yang berjudul “Tiada yang Lebih Aman” yang tertulis demikian:

 

Tiada yang lebih aman,

pun tiada yang lebih nikmat

Membayangkan masa lampau

yang dalam kenangan terpahat.

Tiada yang lebih berat,

pun tiada yang lebih berarti

Dan saat kini

yang ‘kan seg’ra lepas pula jadi mimpi.

Tiada yang lebih gamang,

pun tiada yang lebih senang

Menghadapi masa datang,

yang ‘kan segera jadi sekarang.

Detik-detik berloncatan,

tak satu pun kembali terulang

Karena antara tadi dan nanti,

sekarang menghalang.

Para hadirin yang saya hormati dan para rekan yang saya kasihi,

Saya menyimpulkan, bahwa berubah (bahwa perubahan) adalah sikap hidup yang tak tertahankan. Bahkan Ayip Rosidi menggambarkan perubahan sebagai sesuatu yang tidak aman, tidak nikmat, sesuatu yang berat, yang gamang dan tidak menyenangkan. ‘berubah’ akan semakin berat dilakukan apabila itu berkaitan dengan zona nyaman yang kita rasakan dan kebersamaan yang  kita rajut selama ini.

Para hadirin yang saya hormati dan para rekan yang saya kasihi,

Tempat ini, hall ini, menjadi awal perjumpaan dan akhir perpisahan kita. Tempat ini yang menjadi saksi ketika kita mengawali arak-arakan kebersamaan ini dengan perang yel-yel saat MOPD. Dan ditempat ini juga, dalam kebersamaan, saat ini, kita siap untuk di wisuda dan diutus untuk pergi dari Kolese Gonzaga.

Para hadirin yang saya hormati dan para rekan yang saya kasihi,

Mengadaptasi perkataan dari St. Aloyius Gonzaga: “saya ibarat sepotong besi yang telah bengkok. Saya masuk Kolese Gonzaga agar diluruskan kembali”. Yang menarik, kata “bengkok” dalam bahasa aslinya, bahasa yunani yakni “anakupto” / bang back, sesuatu yang tekuk/bengkok, tekuk dan bengkokkan kembali supaya tegak. Pertanyaannya, “apakah kita sudah membungkukkan kembali, sudah membengkokkan kembali, sudah menekuk kembali, sudah meng-anakupto kembali diri kita, sehingga kita menjadi besi yang lurus dan tegak seperti apa yang dikatakan St. Aloysius Gonzaga?”

Seharusnya sudah. Kitalah besi-besi yang lurus dan siap digunakan orang banyak. Proses ‘pelurusan’ itu tentunya tidak akan berjalan apabila kebersaman kita, tidak didampingi oleh para bapak-ibu guru dan orang tua kita. Maka, dengan rasa syukur, saya, mewakili para rekan angkatan 28 SMA Kolese Gonzaga, mengucapkan besar terima kasih kepada bapak-ibu guru dan kepada orang tua atas pengorbanan tak henti, atas pengabdian tak ternilai, atas cinta dan doa yang terjalin terus. Sehingga kami, anak-anaknya, sudah menjadi “besi yang lurus” dan siap digunakan orang banyak.

 Para hadirin yang saya hormati dan para rekan yang saya kasihi,

Peristiwa saat ini menjadi akhir dari perjalanan panjang kita di Kolese Gonzaga, tapi, tentulah kita harus terus meyakini, bahwa, perjuangan ini belum selesai. Mari kita lanjutkan perjuangan ziarah beragam rasa ini dengan terus menghayati gema ikhtiar kebersamaan kita.

  LITANI

Arak-arakan kebersamaan ini

harus hidup dalam ketaatan

dengan penuh syukur.

Karena itulah alat pengukur,

Bahwa perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan

Bukan saja menuntut sejumlah ketaatan,

Tetapi terutama kemurnian tanggung jawab,

Disertai kejujuran dan rela berkorban

Dalam pengabdian.

Lihatlah ke depan!

Perjalanan kita bersama masih begitu panjang,

Banyak aral melintang

Menghadang bengis, menatap jalang.

Namun kita memiliki segenggam kepastian:

Allah berjalan bersama kita!

(doxology, kemuliaan dan ucap syukur)

Terimakasih Tuhan,

Tangan welas asihMu

Terentang cemerlang!

Selamat berjuang,

dan kiranya Allah memberikan yang lebih baik,

Deus Meliora Det!

 

dari Sport and Multi Function Hall SMA Kolese Gonzaga.

6 Mei 2017

+ Jacko Ryan

 

*pidato disiapkan secara metode naskah dan dipraktikkan secara ekstemporan. Ada beberapa kalimat yang tidak disampaikan ataupun beberapa kalimat dan gurauan yang disampaikan secara impromtu. terjadi menyesuaikan situasi dan kondisi.

Standar

Dari Reformasi Menuju Modernitas: Pengenalan Gereja Protestan dalam Aspek Tokoh, Ajaran, Hukum, Ritual dan Simbol Gereja

Tugas paper Pendidikan Agama Katolik Kelas XII
Jacko Ryan | XIIS1/19

Pengantar

     Abad  ke-16, tepatnya pada tahun 1597 menjadi ‘gerbang awal’ munculnya gerakan reformasi Gereja sekaligus memunculkan sebuah aliran baru dalam Gereja. Diawali dari protes seorang mantan biarawan ordo Agustinian asal Jerman bernama Martin Luther yang menentang ajaran-ajaran Gereja Katolik, hal ini dibuktikan dari tindakan Martin Luther yang menulis 95 dalil atau ajaran Gereja Katolik yang ia protes dan memaku 95 dalil (atau dalam bahasa resminya disebut Ninety-five Theses of Martin Luther) yang ia buat di pintu gerbang Gereja Wittenberg, Jerman. Tindakan ini pun dipandang sebagai ‘kemerdekaan’ bagi banyak orang, terkhusus masyarakat Eropa saat itu. Hal ini dibuktikan dengan banyak tokoh-tokoh reformasi lainnya yang juga menentang Gereja Katolik dan akhirnya membentuk denominasi Gereja baru dan terpisah dengan Gereja Katolik, contohnya antara lain seperti: (1) Jean Calvin yang merupakan tokoh reformasi yang berasal dari Swiss dan melahirkan ajaran Calvinisme. (2) Ulrich Zwingli yang merupakan tokoh reformasi yang berasal dari Swiss dan melahirkan ajaran Reformed. (3) John Wycliffe yang adalah tokoh reformasi yang berasal dari Inggris dimana ia menterjemahkan Alkitab Bahasa Latin (clementine vulgate) ke dalam Bahasa Inggris (Wycliffe Bible).

            ‘Kemerdekaan’ yang dibuat Luther pun ternyata menular sampai ke seluruh dunia, dibuktikan dengan munculnya tokoh John Wesley yang merupakan penggagas dari Gereja Anglikan (Episcopal Church) di Inggris sampai munculnya Gerakan Kharismatik di Amerika Serikat. Negara Indonesia pun juga mendapat pengaruh dari gerakan reformasi Gereja. Agama Protestan masuk ke Indonesia melalui para zending (misionaris) seperti Ludwig Nommensen, Sebastian Danckaerts dan Adriaan Hulsebos dan Hernius. Alhasil, Kristen Protestan di Indonesia terus berkembang sampai saat ini sehingga menghasilkan 88 denominasi Gereja di Indonesia sampai saat ini[1].

            Dalam paper ini, penulis akan mengungkapan lebih dalam mengenai tokoh-tokoh dalam Gereja Prostestan, ajaran Gereja Prostestan, hukum Gereja Protestan, ritual Gereja Protestan dan simbol dalam Gereja Protestan. Secara khusus, penulis juga akan lebih menampilkan ajaran Kristen Protestan versi John Calvin karena sesuai dengan aliran Gereja penulis yakni GKI[2].

Tokoh Gereja Protestan

  • Yesus Kristus

            Yesus Kristus sebagai tokoh sentral dalam agama Kristen Protestan. Umat Kristen menganggap Yesus sebagai Kristus, atau juru selamat (Mesias), dan mempercayai bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, manusia dapat didamaikan dengan Allah dan karenanya memperoleh tawaran keselamatan serta janji akan kehidupan kekal.

            Sebagian besar denominasi Kristen mempercayai bahwa Yesus, sebagai Anak Allah, memiliki kodrat manusia sekaligus Ilahi[3]. Meskipun ada perdebatan teologis mengenai kodrat Yesus, penganut paham Tritunggal meyakini bahwa Yesus adalah sang Firman, Allah yang menjelma, Allah Putera, dan “sungguh Allah sungguh manusia”. Yesus telah menjadi manusia sepenuhnya dalam segala aspek, mengalami rasa sakit dan godaan sebagai seorang manusia biasa, namun Ia tidak berbuat dosa. Sebagai Allah yang sepenuhnya, Ia mengalahkan maut (kematian) dan bangkit kembali. Menurut Kitab Suci, Yesus bangkit, naik ke Surga, dan duduk di sebelah kanan Bapa. Kemudian dikatakan bahwa Yesus akan kembali ke bumi untuk mengadili manusia dan mendirikan Kerajaan Allah di dunia yang akan datang.

  • Martin Luther

            Martin Luther adalah seorang pastur ordo Agustinian yang berasal dari Jerman dan ahli teologi Kristen sekaligus pendiri Gereja Lutheran, (pecahan dari Katolik Roma). Dia merupakan tokoh terkemuka bagi Reformasi. Ajaran-ajarannya tidak hanya mengilhami gerakan Reformasi, namun juga memengaruhi doktrin, dan budaya Lutheran serta tradisi Protestan. Seruan Luther kepada Gereja agar kembali kepada ajaran-ajaran Alkitab telah melahirkan tradisi baru dalam agama Kristen. Gerakan pembaruannya mengakibatkan perubahan radikal juga di lingkungan Gereja Katolik Roma dalam bentuk Reformasi Katolik.

  • Jean Calvin / John Calvin

            Jean Calvin merupakan teolog Kristen terkemuka pada masa Reformasi Protestan yang berasal dari Perancis yang juga ‘seangkatan’ dengan Martin Luther. Namanya kini dikenal dalam kaitan dengan sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme. Ia dilahirkan dengan nama Jean Chauvin (atau Cauvin) di Noyon, Picardie, Perancis. Bahasa Perancis adalah bahasa ibunya. Calvin berasal dari versi Latin namanya, Calvinus.

            Bertolak belakang seperti Martin Luther yang merupakan seorang teolog handal dan menguasai Teologi, Jean Calvin memiliki latar belakang hukum dan  berpendidikan sebagai seorang ahli hukum humanis. Kemudian ia memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma pada sekitar tahun 1530. Sampai akhir hayatnya, Calvin mendorong gerakan Reformasi Protestan di Jenewa dan seluruh Eropa.

  • Ludwig Ingwer Nommensen

         Ludwig Ingwer Nommensen merupakan tokoh zending agama Protestan yang berkarya di Indonesia (khususnya tanah Sumatera Utara) dalam penyebaran Agama Kristen Prostestan di Indonesia. Nommensen yang berasal dari Jerman membawa ajaran Lutheran ke tanah batak dengan strategi awal yakni membuka pos-pos penginjilan dan sekolah-sekolah serta berhubungan baik dengan para raja-raja batak[4].   Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, pada umur 84 tahun. Nommensen kemudian dimakamkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku Batak, setelah bekerja demi suku ini selama 57 tahun lamanya dan mitosnya mengatakan bahwa Nommensen meninggal akibat ditangkap dan dimakan hidup-hidup oleh suku-suku batak ketika sedang menginjili. Nommensen juga sebagai pendiri Gereja terbesar di Indonesia yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)[5].

Ajaran Gereja Protestan

  • Ajaran lima Sola Martin Luther (The Five Solae of the Protestant Reformation)[6]

            Ajaran ini menjadi dasar bagi seluruh Gereja Protestan yang dibuat Reformator Protestan, Martin Luther. Ajaran ini juga yang “menandingi” tiga ajaran dasar Katolik yakni: Kitab Suci, Tradisi dan Kekuasaan Magisterium. Berikut isi dari ajaran lima Sola Martin Luther:

  1. Sola Gratia (hanya dengan kasih)
  2. Sola Fide (hanya dengan iman)
  3. Sola Sciptura (hanya dengan Alkitab)

            Ketiga diatas merupakan ajaran pokok dari Martin Luther. Makna teologis dari ketiga poin diatas adalah, “Manusia hanya dapat diselamatkan oleh anugerah (gratia – grace) dan manusia akan mendapatkan keselamatan itu dengan menyerahkan diri dalam iman (fidei – faith) atau mengimani Kristus Yesus. Selanjutnya, di dalam alkitab (sciptura -scripture, kita dapat mengenal Yesus Kristus, Allah dan kehendak-Nya.

  1. Solus Christus (Kristus yang ditinggikan)
  2. Soli Deo Gloria (kemuliaan hanya untuk Allah)
  3. Sola Ecclesia (hanya dengan Gereja)[7]
  4. Sola Caritas (hanya dengan cinta kasih)[8]
  • Ajaran TULIP dari Jean Calvin[9]

            Jean Calvin menggambarkan ajaran Calvinisme dengan gambaran dan bentuk tulisan acrostic (kumpulan huruf bermakna), yang membentuk kata ‘TULIP’. Lima pokok itu adalah:

  1. T – Total Depravity (Kerusakan Total)

            Calvin menanggapi bahwa manusia sungguh terbelenggu oleh Iblis dan sama sekali tidak mampu memanfaatkan kehendaknya sendiri untuk percaya kepada Kristus.

  1. U – Unconditional Election (Pemilihan Tak Bersyarat)

            “pemilihan” tak berdasarkan kehendak ataupun kondisi yang dilakukan manusia, melainkan merupakan kehendak Sang Pencipta. Pada dasarnya, manusia tidak mempunyai kebebasan kehendek karena terbelenggu dosa dan iblis, maka satu-satunya harapan adalah bahwa Allah yang telah memilih kebebasan kehendakNya sendiri untuk memilih manusia supaya diselamatkan.

  1. L – Limited Atonement ( Penebusan yang Terbatas)

           Kristus mati untuk menyelamatkan orang-orang tertentu dan khusus yang diberikan Bapa kepada-Nya sejak dalam kekekalan. Dengan demikian, kematian-Nya adalah kesuksesan seratus persen, dimana bagi orang-orang tersebut Kristus telah mati dan mereka akan diselamatkan. Dan bagi mereka yang tak mengimani Kristus yang mati akan menerima “penghukuman” dari Allah sehingga mereka dibuang ke dalam neraka.

            Dengan bahasa mudahnya, doktrin ini menyatakan bahwa penebusan Yesus Kristus di kayu salib adalah terbatas hanya pada lingkup untuk orang-orang pilihan yang telah dipredestinasikan[10] Allah untuk keselamatan.

  1. I – Irresistible Grace ( Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak)

        Anugerah Allah tidak dapat ditentang karena Allah memiliki “anugerah yang tak dapat ditolak”. Maka anugerah dipandang juga sebagai Karunia Kehidupan (Pembaharusan/ Regenerasi). Regenerasi manusia terjadi ketika mereka dulu pertama kali “mati dalam pelanggaran dan dosa” dan berorientasi kepada Iblis, maka sekarang mereka dijadikan hidup di dalam Kristus dan berorientasi kepada Allah. Calvin menyatakan bahwa urutan itu adalah: (1) Anugerah Allah akan kehidupan manusia, kemudian iman manusia timbul dan menuntun manusia pada keselamatan.

  1. P – Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-Orang Kudus)

            Seseorang yang telah diselamatkan akan terus menerus diselamatkan. Orang yang telah percaya akan Kristus tidak akan terhilang. Orang yang telah diselamatkan juga akan bertekum terus menerus dalam panggilanNya dan terus percaya sampai selamanya. Allah bertekun (dan juga empati) kepada GerejaNya dan senantiasa memelihara orang-orang kudus. Ini adalah perbuatan aktif Allah dalam memelihara dan melindungi orang yang percaya sehingga tak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dari Allah. (Lih. Roma 8:29-39 dan Yoh 10: 28-29).

  • Kedaulatan Allah (The Sovereignty of God)

            Allah adalah berdaulat, seluruh realitas di dunia ini ada di bawah pengaturan Allah. Dia adalah sempurna dalam setiap segi dan memegang seluruh kebenaran dan kuasa, Dia juga yang menciptakan segala sesuatu dan memelihara oleh kehendakNya. Sebagai pencipta, Dia tak terbatas oleh CiptaanNya. Allah bekerja di dalam sejarah manusia untuk memenuhi maksud-Nya, karena tujuan akhir kehidupan manusia untuk memuliakan Allah ( Gloria dei atau Soli Deo Gloria atau AMDG).

           Paham tentang ‘Kedaulatan Allah’ ini pun sempat menjadi ideologi negara (swiss dan belanda pernah menganut ideologi ini di masa pemerintahan pengikut Calvin), ideologi Kedaulatan Tuhan dalam suatu negara adalah dimana kekuasaan tertinggi suatu negara dipegang oleh raja yang adalah wakil Tuhan dalam menjalankan hukum Tuhan di dunia. Negara penganut sistem ini disebut negara Teokrasi.

  • Ecclesia Reformata Semper Reformanda est (Gereja yang sudah dibarui harus selalu diperbarui)

            Istilah ini pertama kali muncul bukan dari perkataan John Calvin atau Martin Luther. Istilah ini disebutkan pertama kali oleh Theolog Jerman, Karl Barth yang merujuk pada perkataan St. Agustinus. Walaupun bersumber dari Gereja Katolik, istilah Ecclesia Reformata Semper Reformanda est cenderung digunakan untuk golongan reformasi, yakni Protestan.

         Gereja yang diperbaharui disini bukan berarti Gereja yang senantiasa berubah terus menerus mengikuti zaman. Kata “Ecclesia semper reformanda” (Gereja yang harus diperbarui) harus berdampingan dengan kata “Ecclesia semper eadem” (Gereja yang sama). Dengan kedua kata tersebut itu Gereja ingin menegaskan bahwa Gereja itu seharusnya “tetap sama” sekaligus “diperbarui.” Singkatnya, pembaruan berarti pemurnian (semper purificanda).

Hukum Gereja Protestan

  • Katekismus Heidelberg[11]

            Katekismus Heidelberg adalah pedoman pengajaran agama Kristen Calvinisme dan kitab pengakuan iman Gereja-gereja Calvinis yang berbahasa Jerman dan Belanda. Katekismus ini disusun oleh suatu panitia yang dibentuk oleh Friedrich III dari Kurpfalz.

            Dengan datangnya orang Belanda ke Indonesia, Katekismus Heidelberg pun mulai dikenal orang-orang Kristen di Indonesia. Pada 1623 katekismus ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Pdt. Seb. Danckaerts. Hingga kini Katekismus Heidelberg masih banyak digunakan di kalangan Gereja-gereja yang berasal dari zending Gereja-gereja Gereformeerd di Belanda, yaitu gereja-gereja di Jawa Tengah, Sumba, Sulawesi Selatan, dan Papua.

  • Katekismus Kecil dan Katekismus Besar Martin Luther[12]

            Kedua Katekismus ini disusun langsung oleh Martin Luther pada 1529 yang berfungsi untuk mengajarkan anak-anak Kristen. Katekismus ini dibagi menjadi lima bab, yakni: Kesepuluh Firman, Pengakuan Iman, Doa Bapa Kami, Baptisan, Perjamuan Kudus dan ditutup dengan pesan Martin Luther tentang pengakuan dosa. Saat ini, buku Katekismus Martin Luther dipakai untuk persiapan para remaja untuk mengikuti Katekisasi atau Sidi.

  • 95 Dalil Martin Luther ( Martin Luther’s 95 Theses)[13]

            Bantahan Dr. Martin Luther Mengenai Pertobatan dan Surat Pengampunan Dosa atau yang dikenal 95 Dalil Martin Luther merupakan 95 poin-poin bantahan Martin Luther terhadap ajaran-ajaran Gereja Katolik saat itu, yakni tentang Indulgensi, otoritas Kepausan dan Penitensi.[14]

            95 Dalil yang ditulis oleh Luther sendiri pada tanggal 31 Oktober 1517 dipaku di pintu Gereja Kastil di Wittenberg. Hal itu didasari dari tindakan Luther juga mendekati para pemimpin gereja yang kompeten dengan seruannya yang mendesak untuk mengadakan pembaruan, tetapi seruan Luther tidak didengar oleh pihak Uskup disana. Akhirnya, Luther mengedarkan dalil-dalilnya ini secara pribadi. Dalil-dalil ini segera menyebar dan dicetak di Nurenberg, Leipzig, dan Basel. Tiba-tiba tulisannya itu bergema di seluruh Jerman hingga ke luar perbatasannya.

            Luther menghasilkan dampak yang luar biasa kepada dunianya. Ke-95 dalilnya ini menjadi sangat populer dalam waktu yang sangat singkat. Gagasan-gagasannya tidak hanya berbicara kepada suatu kelompok masyarakat saja, karena para pengikutnya datang dari segala golongan. Akibatnya, Paus Leo X berharap agar Martin Luther mencabut apa yang disebutnya sebagai ke-41 kesalahan Gereja, sebagian dari ke-95 dalilnya dan lain-lainnya dari tulisan-tulisan dan ucapan-ucapan yang dianggap berasal dari Luther. Luther menolaknya di hadapan Diet Worms pada 1521, dan dengan demikian secara simbolis memulai Reformasi Protestan.

  • 10 Perintah Allah (Dekalog)

            Merupakan sebuah daftar perintah agama dan moral, yang merupakan perintah tulisan Tuhan Allah dan diberikan kepada bangsa Israel melalui perantaraan Musa di gunung Sinai di atas dua loh (tablet) batu. Perintah-perintah tersebut memiliki keistimewaan yang terkenal dalam agama Yahudi dan Kristen. 10 perintah Allah ini dapat dilihat di Keluaran 20: 1-17.

            Perbedaan 10 perintah Allah juga terdapat pada macam-macam denominasi Kristen dan agama lain. Berikut tabel perbedaan[15] 10 Perintah Allah dalam versi Agama Yahudi, Gereja Orthodox, Gereja Katolik Roma dan Gereja Lutheran – Reformasi – Gereja Anglikan dan denominasi Kristen lainnya:

Ritual Gereja Protestan

  • Sakramen

            Sakramen berasal dari bahasa Yunani (Mysterion) yang berarti “rahasia”. Berasal juga dari bahasa Latin (Sacramentum) yang berarti “hal yang kudus”, kata “Sacramentum” juga bisa digunakan atau diartikan sebagai sebuah sumpah seorang militer. Sakramen sangat berkaitan erat dengan kata “tanda” dan “materai”. Sakramen diartikan sebagai tanda yang kelihatan (visibilium) dari anugerah Allah.

             “ide” sakramen berawal dari seorang teolog dan Uskup Paris, Petrus Lombardus. Petrus Lombardus merumuskan 7 sakramen dalam buku IV Sentence[16] . selanjutnya, “ide” Petrus Lombardus dibahas pada Konsili Trente dan akhirnya disahkan oleh Doktor Gereja, Thomas Aquinas pada Konsili Florence. Perbedaan pandangan mengenai sakramen juga terjadi dalam Gereja Katolik, Lutheran dan Calvinisme.  Perbedaan itu timbul karena Martin Luther dan Jean Calvin memandang bahwa sakramen haruslah ditetapkan dan diperintahkan Kristus sendiri dan sakramen yang ditetapkan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus hanyalah Pembaptisan (berdasar Mat. 28:18-20) dan Perjamuan Kudus (Mat. 26:26-29, I Kor 11:23-32 [1 Yoh 5:7,8; Yoh3:5; 6:54,55]). Perbedaan sakramen-sakramen dalam berbagai Gereja disajikan dalam tabel berikut ini:

  Katolik Roma Orthodox Anglikan Lutheran Calvinis
1

Pembaptisan

Permandian

Pembaptisan

Pembaptisan Pembaptisan
2 Penguatan  (Krisma) Pengurapan Minyak Konfirmasi
3 Ekaristi[17] Perjamuan Kudus (Evkaristia) Perjamuan Tuhan Perjamuan Kudus[18] Perjamuan Kudus[19]
4 Rekonsiliasi (Pengakuan dosa) Pengakuan Dosa Penebusan Dosa (penance)
5 Pengurapan orang sakit Perminyakan bagi Kesembuhan Perminyakan sebelum meninggal (extreme unction)
6 Imamat Pentahbisan Ordinasi
7 Pernikahan Pernikahan Kudus

Pernikahan

Simbol dalam Gereja Protestan (Gereja GKI)

Pakaian liturgis Pendeta

Seorang pendeta dalam Gereja Protestan menggunakan toga (geneva gown), baju slip collar dan stola. Alasan para pendeta menggunakan toga dari segi historis adalah karena Jean Calvin, penggagas gerekan Protestan Calvinis adalah seorang hakim. Alasan historis lainnya ketika Martin Luther memaku 95 Dalilnya di Gereja Kastil, Wittenberg Luther menggunakan toga sebagai simbol orang yang berpendidikan. Stola (selendang) yang digunakan para pendeta juga melambangkan kuasa pengajaran dan tugas pemberitaan firman Tuhan.

  • Lambang pada Stola Pendeta GKI

Stola pada Pendeta GKI terdiri dari tiga motif, pertama motif tangan dengan ibu jari; telunjuk dan jari tengah yang ‘berdiri’ motif ini melambangkan kekuasaan dari Allah Bapa. Kedua motif salib yang melambangkan Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib, ketiga motif lidah-lidah api yang melambangkan Roh Kudus (Alkitab menggambarkan Roh Kudus yang turun dalam wujud lidah-lidah api pada hari Pentakosta). Ketiga motif tersebut disusun menjadi satu dan melambangkan Trinitas.

  • Alpha Omega dan Monogram chi-rho

Alpha dan omega adalah huruf-huruf pertama dan terakhir dalam alfabet Yunani yang merupakan sebutan bagi Yesus Kristus atau Allah, Yesus sendiri menyatakan diri-Nya adalah Alfa Omega (Wahyu 22:13).

Chi-Rho adalah salah satu bentuk tertua “Kristogram” (aksara yang melambangkan Yesus Kristus) dan digunakan oleh sejumlah penulis Kristen. Lambang ini dibentuk dari gabungan dua huruf besar Yunani “Chi” dan “Rho” (ΧΡ) yang merupakan dua huruf pertama dari kata Yunani “ΧΡΙΣΤΟΣ” (Kristus).

  • Ichtus

Icthus dalam Bahasa Yunani berarti ikan. Kata ‘ikan’ dalam Bahasa Yunani (ICHTHUS) digunakan sebagai singkatan untuk kata Iesous CHristos, Theou Uios, Soter yang berarti Yesus Kristus, Putra Allah, Sang Penyelamat. Huruf-huruf pertama frasa ini dalam bahasa Yunaninya adalah IXΘYΣ (ichthus).

  • Roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus

Sesuai dengan doktrin Konsubstantiasi, roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus di Gereja Protestan hanya sebagai simbol Tubuh dan Darah Kristus.

 

 

Jacko Ryan

2016

_________________

 

ENDNOTE:

[1] Jumlah denominasi  Gereja  Protestan di indonesia diambil dan dihitung dari jumlah Gereja Protestan yang tergabung dalam Persatuan Gereja Indonesia (PGI). Data tersebut dapat dilihat di http://forumkristen.com/index.php?topic=39898.0

[2] GKI sebagai Gereja yang beraliran Calvinisme, pernyataan ini dikutip langsung dari artikel di web GKI Residen Sudirman, Surabaya. Pembahasan selanjutnya dapat dilihat di http://www.suplemengki.com/mengenal-ajaran-calvinis/

[3] Dr. Nico Syukur Dister mengungkapkan istilah ‘Gereja yang Ilahi sekaligus Insani’ dalam 2004. Seri Buku Kedua Pustaka Teologi, Teologi Sistematika. Jakarta : Kanisius

[4] Selanjutnya mengenai misi penginjilan di tanah batak yang dilakukan Ludwig Ingwer Nommensen dapat dibaca dalam karya: Pdt. Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang. Sejarah pendidikan Kristen di Tanah Batak: suatu telaah historis-teologis atas perjumpaan orang Batak dengan zending (khususnya RMG) di bidang pendidikan, 1861-1940. BPK Gunung Mulia.

[5] Pernyataan HKBP sebagai organisasi Gereja terbesar di Indonesia didasari dari fakta dan keterangan yang ditulis pada laman wikipedia indonesia yang dilihat pada 03 Agustus 2016, selanjutnya dapat dilihat dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Huria_Kristen_Batak_Protestan (terdapat pada alenia pertama)

[6] Menurut sejarah, Martin Luther awalnya hanya memberi “empat Sola” yakni: Sola Fide, Sola Gratia, Sola Sciptura, Soli Deo Gloria.  Perkembangan terjadi dan dilakukan oleh Theolog terkenal yakni Karl Barth yang menambahkan “Solus Christus” menjadi “lima sola”. Selanjutnya, Anglican Biblical Scholars  menambah “dua sola” lagi, yakni Sola Ecclesia dan Sola Caritas.

[7] tambahan pertama pada The Five Solae of the Protestant Reformation yang ditambahkan oleh Anglican Biblical Scholars.

[8] tambahan kedua pada The Five Solae of the Protestant Reformation yang ditambahkan oleh Anglican Biblical Scholars.

[9] Dikutip dari terj. Baker Books. 1979. Lima Pokok Ajaran Calvin Dalam Terang Firman Allah. Grand Rapids, Ml : Baker Book House Company. Dokumen dapat dilihat dalam link berikut http://www.oocities.org/thisisreformedfaith/artikel/tulip.pdf

[10] Predestinasi sendiri merupakan sebuah doktrin yang menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini telah dirancang dan ditentukan Allah, termasuk nasib dan takdir setiap manusia. John Calvin, Martin Luther dan Gereja Katolik memiliki pandangan yang berbeda mengenai Predestinasi. Pertama, John Calvin menggunakan istilah “Predestinasi Ganda (Predestinasi Keselamatan dan Predestinasi Reprobasi)” dimana ada manusia yang mendapat keselamatan dan ada manusia yang sudah ditentukan nasibnya oleh Allah untuk hukuman abadi dan kebinasaan akibat dosa asal. Kedua, Martin Luther setuju akan pendapat John Calvin mengenai “Predestinasi Keselamatan” tetapi Luther tak setuju dengan pendapat Calvin tentang “Predestinasi Reprobasi”, Luther berpendapat bahwa hukuman kekal dari Allah diberikan ke beberapa manusia karena akibat dosa –dosa fasik, penolakan pengampunan dosa dan ketidakpercayaan bukan karena Allah yang menakdirkan manusia. Ketiga, Gereja Katolik (dalam hal ini pendapat dari St. Agustinus Hippo, doktor dan bapa Gereja) mengungkapan istilah “On Grace and Free Will” dimana Allah telah mengungkapan diri-Nya dan memberikan keselamatan untuk umat pilihan-Nya dan selanjutnya manusia diberikan kehendak bebas (freewill) untuk memilih mau menaati semua ajaran-Nya atau tidak.

[11] Isi dari Katekismus Heidelberg dapat dilihat dalam http://reformed.sabda.org/katekismus_heidelberg_1563

[12] Isi dari Katekismus Kecil dan Katekismus Besar Martin Luther dapat dilihat di https://jenmiramangngi.files.wordpress.com/2012/11/099-katekismus-besar-martin-luther-by-lutheran-literature-www-ebookkristiani-marselloginting-com.pdf

[13] Isi dari 95 Dalil Martin Luther dapat dilihat di http://www.sarapanpagi.org/martin-luther-s-95-theses-95-dalil-luther-vt1174.html

[14] Penulis juga sempat menyinggung hal ini pada bab pengantar yang terdapat pada halaman 1 pada paper ini.

[15] Tabel dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sepuluh_Perintah_Allah

[16] Berdasarkan tulisan mengenai Petrus Lombardus dalam laman wikipedia, terdapat pada link https://id.wikipedia.org/wiki/Petrus_Lombardus

[17] Ekaristi dalam Gereja Katolik menjadi puncak dalam kehidupan Gereja. Dalam Ekaristi, (khususnya dalam Doa Syukur Agung) ada dua bagian penting, pertama yakni Konsekrasi.  Konsekrasi adalah kata-kata yang diucapkan oleh selebran ekaristi, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu…. “ dan “Inilah piala darah-Ku. …”. kedua yakni Transubstansiasi. Transubstansiasi (atau disebut perubahan hakikat) adalah perubahan subtansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang nyata. Maka, Kehadiran Kristus secara nyata dalam rupa Ekaristi dimulai sejak saat konsekrasi.

[18] Perjamuan Kudus dalam Gereja Protestan (Lutheran maupun Calvinis) dipandang sebagai tanda dan sarana peringatan akan Kristus terhadap segala penderitaan, kematian serta kebangkitan-Nya. Secara gamblang, Luther menolak doktrin Transubstansiasi. Luther mengungkapkan istilah Konsubstansiasi, dimana roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus tidak mengalami perubahan substansi, sehingga roti dan anggur tetaplah menjadi roti dan anggur dan dipandang sebagai tanda tubuh dan darah Kristus. Hal ini bertolak dengan doktrin Gereja Katolik tentang Transubstansiasi yang menganggap bahwa roti dan anggur dalam Ekaristi berubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang nyata.

[19] Beberapa GKI dan GKJ (seperti GKI Pondok Indah) sudah menerapkan Perjamuan Kudus yang Paedocommunion. Paedocommunion adalah perjamuan kudus yang melibatkan anak-anak dan bayi (paedo). Jauh sebelumnya, Gereja Purba menggunakan doktrin Paedocommunion dalam Ekaristi, namun pada Konsili Lateran IV (1215) Gereja Katolik secara sepakat mengubah doktrin Paedocommunion menjadi doktrin Transubtansiasi.

Standar

Adiprasetya, Joas. 2016. Menyemai Cinta, Merawat Damai Kumpulan Kotbah Tentang Kehadiran Tuhan Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Agoeng, Noegroho Pr, dkk. 2013. Paus Fransiskus Paus Untuk Orang Miskin. Yogyakarta: Penerbit Cahaya Jiwa.

Brown, Pam. 1993. Mereka Yang Berjasa Bagi Dunia: Henry Dunant. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Cahyadi, T. Krispurwana SJ. 2011. Yohanes Paulus II Tentang Keadilan dan Perdamaian. Jakarta: Fidei Press.

Carnegie, Dale & Associates, Inc. 1993. The Leader In You: How to Win Friends, Influence People and Succeed in a Charging World. Asia: Simon & Scuster Pte. Ltd.

___________________________. 2009. Leadership Mastery, Sukses Memimpin Diri Sendiri dan Orang Lain Meraih Posisi #1. Jakarta: Kompas Gramedia.

Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. 2012. Unitatis Redintegratio (Pemulihan Kesatuan). Jakarta: Konferensi Waligereja Indonesia

Gallagher, Timothy M. OMV. 2006. The Examen Prayer, Ignatian Wisdom For Our Lives Today. New York: The Crossroad Publishing Company.

Giuseppe – Maria, L. Benediktus, dkk. 2012. Mukjizat Ekaristi. Jakarta : Penerbit OBOR.

GKI Kebayoran Baru. 2012. Trilogi Kedua: Melakukan Kehendak dan Menyelesaikan Pekerjaan-Nya. Jakarta: GKI Kebayoran Baru

___________________. 2012. Trilogi Pertama: Kesanggupan Kami Adalah Pekerjaan Allah. Jakarta: GKI Kebayoran Baru

Hamakonda, Pdt. Em. Dr. K.G. 2012. Trilogi Ketiga: Di Dalam Dia, Kita Hidup, Kita Bergerak, Kita Ada. Jakarta: GKI Kebayoran Baru

Hirata, Andrea. 2011. Sebelas Patriot. Jakarta: Mizan Media Utama

Hogue, John. 2009. The Last Pope, The End of The World 2012?. Jakarta: Edelweiss

Hp, Sumantri SJ. 2003. Toserba Surgawi, Kumpulan Cerita Bijak. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Ikranegara, Yudhistira. 2009. RPUL Indonesia- Dunia. Jakarta: Penerbit Bintang Indonesia.

Komisi Kateketik KWI. 2010. Membangun Komunitas Murid Yesus Untuk SMP Kelas VIII. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

___________________. 2010. Membangun Komunitas Murid Yesus Untuk SMP Kelas IX. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Malaka, Tan. 2014. Thesis. Yogyakarta: Octopus Publishing House.

Mello, Anthony de SJ. 1987. Sejenak Bijak. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Mudzakir, Arief. 2006. RPUL Global. Semarang: Penerbit Aneka Ilmu.

Noorsena, Bambang. 2004. R enungan Ziarah ke Tanah Suci, Memotret Beragam Tempat Ziarah Disertai Pembahasan Historis- Teologis Mendalam. Jakarta: Komunitas NISITA.

Permana, Irfan. 2013. Sandiaga Uno Fenomenal & Inspirasional, Belajara Pada Pengusaha Muda, Kaya dan Berjaya. Yogyakarta: Kamea Pustaka Publishing House.

Purwanto, Lazarus H. Pdt. 2011. Mengilas Balik Untuk Terus Melangkah Ke Depan. Jakarta: Pdt. Lazarus H. Purwanto.

Ratzinger, Joseph. 2010. Yesus dari Nazareth. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Rocha, Luis Miguel. 2011. The Last Pope, Paus Terakhir. Jakarta: Kompas Gramedia.

Shahrad, Cyrus. 2006. Rahasia- Rahasia Vatikan. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Soedarmo, Dr. R. 2014. Kamus Istilah Teologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Soegito, Drs. A.T.Bc.HK. 1984. Prof. Mr. Dr. R. Supomo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Protek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Sutrisno, Mudji SJ. 2010. Malam Tak Jadi Purnama. Jakarta: Penerbit OBOR.

Triwamwoto, P. Citra, S.S., M.Hum, dkk. 2015. Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: SMA Kolese Gonzaga.

Wardana, Amelia. 2010. Unik dan Penting! 141 Fakta Terunik di Dunia yang Wajib Kamu Ketahui. Sleman: Wahana Totalita Publisher.

Wartana, Eka. 2012. A New Way of Thinking Mind Web. Jakarta: Kompas Gramedia.

___________. 2016. Berpikir Tanpa Mikir Ala Mindweb. Jakarta: Kompas Gramedia.

Wirakotan, J.H. Pdt. 2015. Menyerah dan Berserah Pada Tuhan. Jakarta: Pdt. Dr. Wirakotan.

____________. 2015.Kita Berani Ngomong(in) Tentang Dia. Jakarta: Pdt. Dr. Wirakotan.

____________. 2015.Syukur Padamu Ya Allah, Kesaksian Pelayanan Anak-Anak Tuhan. Jakarta: Pdt. Dr. Wirakotan.

Wiyanto, Pdt. Agus. 2010. Rapor Merah Pendeta. Yogyakarta: Gloria Graffa.

Zaluchu, Fotarisman. 2010. Kain Lenan Yang Kering, Memperbarui Pemimpin Untuk Melayani Seperti Yesus. Yogyakarta: Gloria Graffa.

Standar

Examen Conscientiae Dalam Ignatian Spirituality: Pengenalan, Praksis dan Buahnya

oleh: Jacko Ryan

Eksamen berasal dari bahasa latin, Examen, tidak berarti sebuah ujian (an exam) yang hanya menghasilkan lulus atau gagal. Eksamen sendiri lebih menyerupai sebuah pengkajian ulang dari sebuah kemajuan. Eksamen juga bisa disebut sebagai sebuah kesadaran (an awareness) karena Eksamen merupakan usaha untuk melihat kembali sejauh mana seseorang menyadari kehadiran Allah dalam hidupnya.

Eksamen merupakan pemberian Allah, dan pemberian Allah itu bekerja pada kasihNya. Pelaksanaan Eksamen bukan sekedar mencapai buah-buah rohani, tetapi mengajak manusia untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan “apa yang Tuhan mau atas diri saya?” sehingga Eksamen tidak bisa dikategorikan sebagai penghargaan manusia (human achievement).

Eksamen sendiri dalam sejarahnya merupakan doa yang bersumber pada spiritualitas Ignatian, yaitu cara dan semangat yang dihidupi oleh St. Ignatius Loyola, pendiri ordo Serikat Yesus, untuk menemukan Allah dalam hidup sehari-hari. Bagi Ignatius Loyola, Allah tidak hanya ditemukan dalam Kitab Suci, Sakramen, Liturgi, dan lainnya, melainkan juga dalam ciptaanNya, dalam sejarah umat manusia dan dalam diri sesama manusia. Allah dapat menunjukkan diriNya secara langsung ataupun tidak langsung, yaitu dalam tanda di sekitar kita.

Jenis – Jenis Examen Conscientiae (Pemeriksaan Batin)

  1. Pemeriksaan Hati Khusus Harian

Pemeriksaan hati yang terdiri atas tiga waktu dalam sehari. (1) pada pagi hari, membuat niat berwaspada terhadap dosa atau kekurangan khusus yang ingin diperbaiki, (2) pada pagi hari, memohon rahmat yang dikehendaki kepada Allah untuk mengingat tentang dosa dan menghindari di waktu selanjutnya, (3) di akhir hari, kita harus mencatat berapa kali jatuh ke dalam dosa.

  1. Pemeriksaan Hati Umum

Darminta J, SJ (1993: 52) menyebutkan tahap Pemeriksaan hati yang dilakukan yang terdiri dari lima tahap yakni: (1) berterima kasih pada Allah atas anugerah yang kita terima, (2) mohon rahmat untuk mengenali dan melepaskan diri dari dosa, (3) memikirkan mengenai pikiran-pikiran, kata-kata dan perbuatan-perbuatan yang telah berlalu, (4) memohon ampun kepada Allah atas kekurangan dan (5) membuat niat untuk memperbaiki diri dengan rahmatNya.

lima tahap dalam pelaksanaan Examen Conscientiae

Timothy M. Gallagher OMV (2006: 57-103) menjelaskan lebih lanjut mengenai 5 tahap pemeriksaan hati di atas, yakni[1]:

  • Gratitude (ucapan syukur)

Dalam Eksamen, kita perlu menyadari kehadiran Allah, mengucap syukur atas berkat yang diberikanNya selama hari yang telah lewat dan mengucap syukur atas kasih karuniaNya yang mengatasi segala kelemahan kita di hari lampau. Dalam tahap ini, kita harus mampu meningkatkan kesadaran bahwa segala yang baik datang dari Allah[2] dan bersatu (communion) dengan Allah.

Poin dalam tahap ini adalah (1) ketika manusia dapat menerima kenyataan bahwa manusia tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan dari Allah dan (2) menyadari bahwa Tuhan memberikan cintaNya kepada manusia dan hasilnya yakni kepekaan hati akan didapatkan jika manusia sudah sampai pada kedua poin tersebut.

  • Petition (permohonan)

Ignatius Loyola dalam tahap ini mengajak untuk kita dapat menuju Tuhan dalam doa yang sederhana. Doa yang sederhana adalah meminta permohonan-permohonan dengan singkat. Dalam tahap ini, kita diajak untuk melihat kembali penggal-penggal hari yang telah dilewati dan membandingkannya dengan memohon pengampunan Allah yang terjadi di masa lalu. Kita juga meminta Roh Kudus untuk menerangi dan membuka budi serta hati dalam melihat kembali masa lalu.

Dalam tahap ini, Eksamen terasa lebih nyata dan meliputi seluruh aspek kehidupan spiritual manusia. sampai tahap Petition, Eksamen sudah mengantarkan kita pada sikap berkomunikasi padaNya, menyadari kasih karuniaNya, menyadari pemberianNya, menyadari cintaNya dan meminta permohonan kepadaNya.

Tahap Petition menegaskan bahwa tak selamanya harapan mengecewakan setiap manusia. Tahap Petition bukan tentang bagaimana permohonan kita dikabulkan atau tidak dan bukan tentang dosa kita telah diampuni atau tidak, tetapi tahap ini membawa kita untuk meminta kekuatan dan rahmat untuk mengenal dan melepaskan diri dari dosa.

  • Review (ulasan)

Dalam tahap ini, kita dapat mengulas peristiwa masa lalu yang sudah terjadi baik dalam jangka waktu yang pendek ataupun panjang. Timothy Gallagher OMV (2006: 76) menekankan kita untuk mengingat peristiwa yang terkait dengan Spiritual Consolation dan Spiritual Desolation.

Spiritual Consolation adalah ketika situasi atau peristiwa dimana Tuhan terasa dekat dalam hidup kita sehingga kehidupan rohani kita terasa semangat dan berkobar-kobar. Kita merasa dituntun dan dihibur dari ke hal-hal yang lebih baik dan semakin baik di mata Tuhan.

Spiritual Desolation adalah kebalikan dari Spiritual Consolation dimana adanya situasi atau peristiwa di mana Tuhan terasa jauh, sehingga kehidupan rohani kita terasa lesu. Pribadi manusia yang dalam kondisi ini digambarkan sebagai kegelapan jiwa dengan ciri-ciri (1) mudah di dorong ke hal-hal yang rendah dan duniawi, (2) ketidaktenangan oleh pergerakan emosi dan godaan, (3) kekurangan kepercayaan diri, (4) tanpa harapan dan tanpa cinta kasih.

Dengan dipahaminya ciri-ciri dua keadaan ini dalam peristiwa masa lalu, kita juga dapat terbantu dalam membuat keputusan yang penting di dalam hidup dan tetap teguh berpegang dan melakukan yang baik.

  • Forgiveness (pengampunan)

Tahap ini dikenal juga dengan Relational Step. Dimana dalam tahap ini terjadi relasi antar dua pihak, yakni pihak manusia (human person) yang menjalin relasi dengan Allah (Divine person).

Dalam tahap ini, Eksamen membawa kita ke dalam suasana yang lebih intim, yakni kita diajak untuk melakukan percakapan dengan Allah tentang hal yang kita pandang penting sehubungan dengan pemeriksaan batin. Doa[3] menjadi alat manusia untuk berkomunikasi dan melakukan percakapan denganNya. Dengan doa, membuat kita menjadi lebih merdeka, berubah dan menjadi sukacita terutama saat kita meminta pengampunan (Forgiveness) dariNya.

  • Renewal (pembaharuan)

Memperbaharui diri adalah tahap akhir dalam Eksamen. Dalam tahap ini kita diajak untuk membangun sebuah niat untuk memperbaiki hidup kita dengan membangun semangat untuk bangkit kembali. Dalam tahap ke lima, kita harus fokus terhadap kesadaran untuk hari-hari esok. Dalam tahap ini, kita juga meminta berkat kepada Tuhan untuk menjernihkan perasaan dan pikiran kita untuk mengetahui apa yang Tuhan mau dalam hidup saya dan merancang prioritas hidup untuk masa depan.

Praktik sebelum dan sesudah pelaksanaan Examen Conscientiae

            Sebelum menjalani Examen Conscientiae, kita diajak untuk mempersiapkan hati dan pikiran kita dengan berbagai cara, antara lain; (1) memulai Eksamen dengan berdoa formal yang pendek seperti, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, (2) mengucapkan nama Tritunggal (Bapa, Putera dan Roh Kudus) dengan pelan dan lembut sehingga diri kita bersatu denganNya, (3) mempersiapkan diri dengan bacaan-bacaan singkat Alkitab dan merasakan kita bersatu denganNya melalui bacaan/ ayat singkat dari Alkitab yang dibacanya.

            Sesudah kita melakukan tahap-tahap Eksamen, ada banyak cara untuk menutup Eksamen tersebut, yakni dengan; (1) berdoa doa pujian secara singkat sebelum mengakhiri Eksamen, (2) mengulang beberapa waktu doa Kemuliaan dan (3) mengucapkan syukur kepada Tuhan karena Eksamen berlangsung dengan baik. (4) menulis kembali (journaling) pengalaman apa yang kita pikirkan selama Eksamen tadi. Berlatih menulis akan membantu kita untuk mengerti pengalaman itu lebih mendalam daripada hanya memikirkannya saja. Tulisan yang dibuat juga bisa menjadi bahan refleksi spiritual seseorang di masa esok, merefleksikan dengan cara membacanya dan berguna bagi orang lain. Contohnya adalah St. Ignatius Loyola yang menulis setiap kesaksiannya dalam buku The Spiritual Diary.

 Buah dari pelaksanaan Examen Conscientiae

Beberapa buah yang kita dapat petik ketika melakukan Eksamen antara lain,

  1. Eksamen adalah sebuah doa dari kelanjutan pertumbuhan spiritual (continuing spiritual growth)[4]
  2. Eksamen memberikan kemampuan dan juga ‘energi’ kepada seseorang untuk mengarahkan kita kepada kuasa dan kasih karunia Tuhan yang bekerja dalam setiap tindakan manusia.
  3. Eksamen menjadi sarana manusia untuk melakukan pencarian tanpa akhir dan melakukan persekutuan yang lebih dalam dengan Tuhan, yang memberikan sukacita dan kesegaran terus-menerus untuk kehidupan spiritual kita .
  4. Melakukan kegiatan Eksamen secara rutin dengan seluruh perjuangan dan penghiburan kita akan memampukan kita untuk mengambil keputusan-keputusan kecil dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Melakukan kegiatan Eksamen secara rutin di tengah kesibukan kita akan memudahkan batin kita untuk lebih menyadari hadirnya Tuhan dalam setiap aktivitas dan kesibukan kita.
  6. Eksamen mengajarkan kita secara mendalam bahwa kita (manusia) adalah pribadi yang dicintai Tuhan[5]
  7. Eksamen merupakan sarana perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Barry, William A dan Robert Doherty. 2003. Studies in spirituality of Jesuits: The Jesuit Spirituality For A Whole Life. St. Louis MO: Faber House.

__________________. 2006. The Jesuit Way, Kontemplasi Dalam Aksi. Jogjakarta: Penerbit Kanisius

Darminta, J SJ. 1993. Latihan Rohani St. Ignatius Loyola. Jogjakarta: Penerbit Kanisius

Gallagher, M Timothy OMV. 2006. The Examen Prayer, Ignatian Wisdom for Our Lives Today. New York: The Crossroad Publishing Company.

Modras, Ronald. 2004. Ignatian Humanism, a Dynamic Spirituality for the 21 Century. Illinois, Chicago, USA : Loyola Press

Prasetyo, Yohanes. 2015. Doa Manfaatnya. Jakarta: SMA Kolese Gonzaga.

SMA Kolese Gonzaga. 2015. Buku Siswa. Jakarta: SMA Kolese Gonzaga

 

ENDNOTE

[1] Merupakan penjelasan lebih lanjut dari tahap pemeriksaan hati umum yang dikutip dari Darminta, J SJ. 1993. Latihan Rohani St. Ignatius Loyola. Jogjakarta: Penerbit Kanisius.

[2] Bandingkan dengan kutipan William Barry SJ (2003 : 27) tentang Roma 8:28 dalam Barry, William A dan Robert Doherty.  (2003). Studies in spirituality of Jesuits: The Jesuit Spirituality For A Whole Life. St. Louis MO: Faber House.

[3] lebih lengkap lagi bisa dilihat dalam paper Prasetyo, Yohanes. 2015. Doa Manfaatnya. Jakarta: SMA Kolese Gonzaga.

[4] ‘continuing spiritual growth’ adalah bahasa asli yang ditulis oleh Gallagher, M Timothy OMV. 2006. The Examen Prayer, Ignatian Wisdom for Our Lives Today. New York: The Crossroad Publishing Company. Timothy Gallagher menggambarkan spiritualitas sebagai ‘sesuatu’ yang bersifat kontinuitas (continuing).

[5] Lihat lagi kekhasan dalam kepemimpinan Ignatian dalam pendidikan Kolese point pertama dalam tesis Pawittri, Pauline P (2014) Kepemimpinan Spiritualitas Ignatian Pada Sekolah Menengah  Atas (Kolese Jesuit) http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=69720

 

Jacko Ryan – 2016.

Standar

Pandangan tentang cinta

Tentu masih segar ketika kita mengingat kembali kisah (legenda) tentang bagaimana Bandung Bandawasa membangun komplek candi Hindu terbesar di Indonesia, yang terletak kurang lebih 20 km timur Kota Jogjakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang. Legenda menyatakan bahwa Bandung Bandawasa membangun ini dalam waktu satu malam hanya untuk memenuhi syarat yaitu mengajukan lamaran kepada Rara Jongrang , hal itu dilakukan karena cinta yang begitu besar antara Bandung Bandawasa dan Rara Jongrang.

Yang kedua , adalah pernikahan aktor Hollywood, Rudolph Valentino dengan Jean Acker yang berlangsung meriah pada tanggal 5 November 1919. tetapi nyatanya, pernikahan mereka itu hanya berakhir enam jam setelah pernikahannya. mereka berdua menyatakan untuk bercerai pada keesokan harinya, 6 November 1919.

Yang ketiga, adalah berita yang hangat dibicarakan saat ini yaitu tentang eksekusi mati terpidana narkoba baik yang sudah di eksekusi ataupun yang akan di eksekusi. Dan bagaimana khawatir dan juga risau baik bagi para terpidana mati ataupun rasa khawatir dan risau bagi para anggota keluarga terpidana mati di Indonesia.

Cinta sangat memuat banyak pengertian dan dalam cakupan yang luas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta bisa berarti suka sekali ,kasih sekali, susah hati ( khawatir ) ,risau, kerinduan dan lain-lain. dalam Alkitab, 595 kata ‘cinta’ tertulis di Alkitab baik di Perjanjian Lama dan di Perjanjian Baru. Darwis Hude juga menuliskan bahwa kata cinta (al – hubb , love ) dapat dijumpai dalam Al- Qur’an tidak kurang dari 80 ayat dan objek cinta dalam ayat-ayat itu ternyata tidak sebatas antarmanusia melainkan cinta dapat tertuju pada Allah, keluarga, harta (dalam berbagai bentuknya) , lawan jenis , hasil karya (budaya), kesucian, andud (idola). Dalam ilmu psikologi cinta didefinisikan menjadi 5 gaya yakni, romantic love (cinta romantik) , game – playing love (cinta mainan), possessive love (cinta milikan), companionate love (cinta biasa), pragmatic love (cinta pragmatik ) dan companionate love (cinta sahabat)

Cinta dan kasih menurut Alkitab

Perbedaan penggunaan kata ‘cinta’ dan ‘kasih’ dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa inggris tidaklah sejelas jika kita membandingkan dalam bahasa Yunani. Dalam Yunani , kata ini dibagi menjadi agape , philia , storge dan eros. Agape dimana kasih dan cinta yang merujuk dan menuju kepada Allah, kasih Agape lebih dekat dengan kata ‘kasih yang dilakukan / dinyatakan’ bukan ‘kasih yang dirasakan’. Sebagai contoh, dalam Yohanes 3: 16a. Yohanes menyatakan bahwa Allah sebagai subjek dan dunia ini ( beserta isinya) adalah objek. Memang Yoh 3: 16a dalam Alkitab Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris hanya ditulis kasih ( karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini) dan loved (For God so loved the world). Dalam Alkitab Bahasa Yunani, kasih  dan loved  dituliskan dengan menggunakan kata agapao ( agape). Agape (agapao) berarti menyatakan kasih. Dalam konteks Yoh 3:16a , maka dapat diartikan bahwa Allah menyatakan ( dan melakukan) kasih akan dunia ini.

Yang kedua ialah philia yang berarti menganggap dan memiliki perasaan kepada seseorang atau sesuatu dan menganggapnya sebagai saudara. Storge lebih tepat diterjemahkan ke Indonesia dengan kata ‘menyukai’ atau ‘persahabatan’. Yang ketiga ialah storge yang merujuk pada kasih  yang penuh kebaikan, pengorbanan dan kesungguh-sungguhan yang berlaku baik antara anak-orang tua, saudara kandung , suami – istri. Storge dan philia lebih mengacu ke manusia sedangkan agape lebih mengacu ke Allah. Dengan hal ini , maka terjadi penggabungan kata storge dan philia dalam Alkitab. Perbedaan storge philia dengan agape sangat jelas pada Roma 12 : 9 -10. “ Hendaklah kasih(1)  itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat  dan lakukanlah yang baik.Hendaklah kamu saling mengasihi(2) sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”.  Pada kasih (1) kedudukannya adalah kasih untuk / ditujukan Allah , maka dalam Alkitab Bahasa Yunani, kasih (1) dituliskan dengan menggunakan kata agaph( agape) sedangkan pada kata mengasihi (2) kedukannya adalah kasih untuk / ditujukan kepada manusia ( orangtua, sesama, saudara dll). Maka dalam bahasa Yunani, mengasihi (2) dituliskan menggunakan kata philostorgos( yang merupakan campuran dari kata philia dan storge) . yang terakhir ialah  eros yang berarti cinta secara badaniah , cinta berbau seksual masuk kedalam kategori ini. tidak ada gambaran jelas mengenai eros dalam Alkitab.

tanpa cinta kasih dalam kehidupan

cinta kasih adalah universal, menyeluruh baik pelakunya atau penerimanya. Menjadi sebuah kewajiban untuk bersekutu dan menjalin cinta kasih antar manusia dan hal itu sudah menjadi perintah Allah sendiri ke manusia ( Bdk. Kejadian 1 : 28) . cinta kasih itu lah yang seharusnya menyempurnakan persekutuan yang diharapkan Allah agar dilakukan manusia. Tetapi seiring berjalanannya waktu, cinta kasih itu nyatanya sulit dilakukan oleh manusia. Terbukti dalam Perjanjian Lama, manusia nyatanya tidak mempraktekkan cinta kasihnya kepada manusia lain ( dan bahkan saudaranya sendiri) dibuktikan dengan kisah Kain dan Habel , yang merupakan anak Adam dan Hawa ( Kejadian 4).

Buah cinta kasih dalam kehidupan

Menghadapi masalah antar manusia yang terjadi dalam kehidupan salah satunya dengan cinta kasih dan ketulusan diri. Keduanya akan menghasilkan sikap untuk memaafkan orang lain dan menerima kenyaatan dalam hidup. Terlihat sekali dalam kisah Yakub dan Laban ( Kejadian 29). Dimana saat Yakub mengadakan kesepakatan dengan Laban , tetapi nyatanya Laban memanipulasi dan melanggar kesepakatan itu . tetapi Yakub tidak merespon kebohongan dan kecurangan laban dengan hal yang negatif melainkan Yakub menjalani kesepakatannya dengan ketulusan, cinta kasih dan kerja kerasnya selama 7 tahun walaupun Laban telah menipunya dalam kesepakatan itu.

Tuhan juga mau manusia hidup dalam cinta kasih yang adil, setia dan hidup dengan rendah hati (Mikha 6 : 8)

Tetapi terkadang, iri hati pada diri manusia (khususnya remaja) memadamkan cinta kasih yang kita rajut selama ini. hal itu muncul karena kita tidak mampu memiliki, meraih dan mendapatkan apa yang kita inginkan serta tidak senang dengan kelebihan yang dimiliki orang lain (menurut KBBI) . kisah iri hati terjadi pada Yusuf dan saudara-saudaranya (Kejadian 37). semestinya, dalam kehidupan persaudaraan dan kekeluargaan harus diliputi kasih yang philia, tetapi nyatanya dalam perjalanan kehidupan keluarga Yusuf , iri hati memadamkan hubungan persaudaraan karena kehilangan apa itu arti cinta .

Bukan hanya kisah dalam Alkitab, kehidupan remaja juga merupakan sebuah pergumulan besar. Iri hati yang begitu besar sering meliputi diri remaja sehingga iri hati menjadi musuh dan tembok besar untuk saling mencintai dan mengasihi antar satu sama lain. Belajar untuk menumbuhkan kesadaran serta pemahaman akan rasa cukup atas apa yang Tuhan berikan dalam hidup kita adalah penting. Jikalau kita diperlakukan tidak adil bagi sesama kita karena kita dituduh sebagai pembuat iri hati bagi orang lain , belajarlah untuk membalasnya dengan ketulusan seperti kisah Yakub pada Kejadian 29.

Hanya dengan cinta kasih yang tulus, maka manusia dapat berkembang menjadi pribadi yang adil, setia, rendah hati. Pribadi yang hidup dengan cinta kasih yang begitu tulus tidak hanya hidup dalam kebahagiaan, namun terkadang harus diliputi dengan penderitaan. Maka tidak menutup kemungkinan bahwa cinta kasih yang tulus adalah sebuah pengorbanan untuk menderita. Tetapi sebenarnya, dengan cinta kasih dan penderitaan serta dapat memadamkan iri hati,  hidup manusia akan selalu dan senantiasa dikasihi dan diperkenan Allah.

Selamat Berjuang !

DAFTAR PUSTAKA

Hude , Darwis. 2006.  Emosi Penjelajahan Religio – Psikologis Tentang Emosi Manusia Di Dalam Al-Quran. Jakarta : Erlangga.

Munthe A , Pdt. 2008. Firman hidup. Jakarta : BPK Gunung Mulia

Newman , Barcley. 2009. Kamus Yunani – Indonesia Untuk Perjanjian Baru. Jakarta : BPK Gunung Mulia

Ratzinger , Joseph. 2006. Deus Caritas Est – God Is Love. Amerika : United States Conference of Catholic Bishops

Walker D.F , Dr. 2008.  Konkordansi Alkitab. Jakarta : BPK Gunung Mulia

Wardana, Anelida. 2010. Unik Dan Penting , 141 Fakta Terunik di Dunia Yang Wajib Kamu Tahu. Jogjakarta: Wahana Totalita.

Yahaya , Azizi , dkk. ____ . Psikologi Sosial Alam Remaja. Malaysia : Profesional Pendidikan.

___________, 2002. Alkitab. Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia

 

 

Jacko Ryan – 2015.

Standar

  1. Agama Kristen

1.1 Agama Kristen Protestan

  • pendahuluan

Kebebasan dalam beragama berhubungan sekali dengan peran dan kegiatan yang Gereja lakukan. Gereja di Indonesia dipandang sebagai Gereja yang misioner , yakni memiliki misi ( dan juga motivasi) untuk melakukan kebebasan menjankan kehidupan beragama setiap umatnya[1].  Artinya , dengan kata lain umat Kristiani di Indonesia masih dapat berkembang menciptakan kehidupan beragama yang begitu bebas dan adil.

  • Kebebasan dalam menjankan kewajiban beragama dalam masyarakat majemuk

Pengkabaran Injil menjadi tugas setiap umat Kristen , hal ini didasari langsung dari perintah Tuhan Yesus , ‘pergilah, jadikanlah semua bangsa ,murid-Ku’ (Lih. Mat 28:19). Pengkabaran Injil menjadi hal yang begitu sulit dilakukan apabila kita hidup ditengah keberagaman (diversity) agama dan kemajemukan masyarakatnya ( heterogen ).

Missio Dei ( Misi Allah ) aadalah salah satu bentuk pengkabaran injil. Setiap umat Kristen diajak untuk melakukan pengkabaran injil dengan misi yakni karya Allah demi penyelamatan manusia di dalam sejarah[2]. Sejarah membuktikan bahwa teori Missio Dei  sudah dilakukan misionaris Katolik dengan ordo SVD , dimana para misionaris SVD melakukan kegiatan penginjilan di Indonesia bagian timur.

Missio Dei  mengajak umat Kristen untuk menjalankan salah satu kewajiban beragama ( yakni pengkabaran injil) bukan saja berbicara tentang doktrin ataupun dogma melainkan perginya penindasan dalam bentuk penjajahan, sembuhnya sakit orang-orang lemah dalam masyarakat, masalah-masalah kemanusiaan. Jadi misi Allah yang seharusnya diteruskan oleh orang Kristen adalah berperan dalam tugas-tugas hidup untuk kebaikan umat manusia dan alam semesta[3]

  • Kebebasan dan keadilan menurut Alkitab

Manusia hidup pada hakekatnya beragama karena semua manusia diperintahkan untuk menyembah Allah. Jadi semua kehidupan manusia adalah agama. Hal ini dapat dilihat di Perjanjian Lama , “Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku” ( Kel 20:3)[4] dan Perjanjian Baru , “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”(Matius:22:37)[5]

Kebebasan beragama bukan hanya kebebasan untuk memilih hari sabtu atau hari minggu untuk beribadah ataupun kebebasan untuk mengikuti ibadah atau tidak, tetapi jika hidup manusia adalah agama, maka kebebasan beragama berarti juga kebebasan untuk untuk memilih mengatur kehidupannya. Hak Kebebasan Beragama juga berarti hak untuk melepaskan keyakinan agamanya atau berganti agama. Hak Kebebasan Beragama adalah setiap pemeluk agama memiliki kemerdekaan untuk memeluk agamanya yang didasarkan kehendak bebas manusia (sesuai dengan keinginan hati nuraninya), dan tidak seorangpun dapat dipaksa untuk menyembah apa yang dia ingin sembah atau apa yang ia tidak ingin menyembahnya.

Keadilan dalam Teologi Kristen adalah sebuah paham yang memusatkan pemikiran kita untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat terutama bangsa / daerah yang tidak mendapatkan keadilan. keadilan bersumber pada keadilan Allah yang memelihara, melindungi dan menyelamatkan manusia tanpa pandang bulu terutama dalam hal dosa.[3]

  • Agama Katolik Roma
  • Pandangan keadilan menurut Ajaran Sosial Gereja Katolik

Paus Leo XIII pada 1891 menerbitkan ensiklik yakni Rerum Novarum. Ensiklik tersebut dibuat oleh Paus melihat keprihatinan buruh-buruh yang diperlakukan tak manusiawi oleh kaum Burjois dan buruknya struktur sosial – ekonomi yang berjalan saat itu. Dalam Rerum Novarum , Paus Leo XIII memberikan 3 konsep keadilan , yakni :

  • Keadilan distributif (justitia distributiva)

keadilan yang menuntut para penguasa agar memberi perhatian kepada kebutuhan material semua orang, terutama kaum miskin, sehingga mereka semua mempunyai tempat tinggal, pakaian dan dapat menyangga kehidupan mereka.

  • keadilan komutatif (justitia cummulativa)

keadilan yang menuntut kita agar setia menghormati harta milik orang lain dan tidak menerjang hak orang lain, dengan melewati batas dari harta miliknya sendiri kmati kesejahteraan yang mereka ciptakan.

  • Keadilan legal

keadilan yang diberikan individu kepada masyarakat, kewajiban masyarakat menaati hukum untuk kepentingan umum.

Dalam Rerum Novarum , Gereja ( dalam hal ini Paus Leo XIII , secara ex chatedra[6]) nmenganjurkan perlunya keadilan dihayati dan dijalankam. Keadilan haruslah ditegakkan khususnya bagi mereka yang menjadi korban praktek ekonomi, politik dan kekuasaan sekelompok orang. Hal itu dapat dicapai dengan menegakkan kedilan. Bagi setiap manusia, keadilan harus terus diperjuangkan dan menjadi visi setiap individu, masyarakat dan negara untuk ditegakkan. Perjuangan untuk menegakkan keadilan tidak hanya menjadi tanggung jawab negara tetapi juga menjadi tanggung jawab setiap individu.

  1. Agama Islam
  • Pandangan keadilan dalam agama Islam dilihat dari prinsip Rasul.

Dalam membina masyarakat Madinah , nabi berpijak pada tiga prinsip dasar, salah satunya yakni prinsip sunnatulah[7]. Prinsip sunnatulah mendorong manusia untuk bersikap kritis dan dinamis.  Sunnatulah sendiri berarti tradisi Allah dalam melaksanakan ketetapanNya sebagai Rabb yang terlaksana di alam semesta atau dalam bahasa akademis disebut hukum alam[8].

Dalam Al-Quran , keadilan berasal dari kata al mizan yang mengandung arti seimbang atau timbangan, merujuk pengertian bahwa keadilan itu mendatangkan harmoni karena segala sesuatu diperlakukan atau ditempatkan sesuai dengan semestinya. Demikian juga keseimbangan yang ada pada tata bumi, struktur tanah, resapan air, habitat makhluk hidup, kesemuanya diletakkan dalam sistem keadilan, yakni sistem yang menempatkan seluruh makhluk dalam satu siklus dimana kesemuanya diperlakukan secara “sama”, proporsional dan sepantasnya.

Prinsip sunnatulah dan al- mizan inilah yang menjadi dasar Rasuk untuk membangun kehidupan masyarakat. Persaudaraan , cinta kasih , solidaritas, dan keadilan lah yang membentuk masyarakat Madinah yang damai dan harmoni.

  • Semangat Pluralisme dalam kebebasan dalam agama Islam

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Surat Yunus 99)[9]

Semangat kebebasan dalam umat islam dalam beragama terlihat diatas, bahwa Sudah jelas para nabi dan utusan Allah tidak akan pernah memaksa manusia untuk beriman kepada Allah. Apalagi pada dasarnya beriman dibawah tekanan dan paksaan tidak ada nilainya samasekali. Maka sebenarnya Islam memandang bahwa manusia bebas memeluk agama / kepercayaan , perlu diketahui iman manusia muncul karena petunjuk dan bimbingan Allah Swt.

Bukan prinsip kebebasan saja yang ditunjukkan pada ayat diatas , melainkan juga ada semangat pluralisme. Islam juga menganggap bahwa sikap pluralitas ( keberagaman) dalam beragama adalah sebuah sunnatulah, yaitu sesuatu yang sudah menjadi keputusan Tuhan, bukan sebuah kekurangan ataupun kesalahan.

  1. Agama Buddha
  • Kebebasan menurut ajaran Buddha

Buddha telah mengajarkan nilai penting dari kebebasan berpikir, yaitu dengan cara melenyapkan belenggu dari pemikiran. Manusia yang terikat oleh ideologi, pemikiran, serta pandangan yang dipaksakan kepadanya menyebabkan manusia tersebut tidak akan maju dan berkembang. Pemikiran manusia tersebut hanya akan terbatas pada ideologi, pemikiran, dan pandangan yang telah diperolehnya. Kebebasan seseorang untuk terbebas dari segala macam pemaksaan ataupun pengaruh dari pihak lain perlu dilindungi.

”Wahai, suku kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah memikirkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Pertapa itu adalah guru kami. Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, hal-hal ini adalah tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; hal-hal ini dihindari oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, akan menyebabkan kerugian dan penderitaan’, maka kalian harus meninggalkannya”, (Anguttara Nikāya I, kepada suku Kālāma)[10]

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Sang Buddha menerapkan kebebasan untuk memilih agama dan kebebasan menentukan sikapnya , dalam kebebasan itu seharusnya manusia harus melakukan penyelidikan dan pendalaman terlebih dahulu terhadap kebenaran. Dibalik itu maka juga ada sikap kemandirian dalam diri manusia. pada hakikatnya semua orang sama nilainya sebagai manusia, maka tuntutan paling dasariah keadilan ialah perlakuan yang sama terhadap semua orang.

  • Praktek keadilan dalam beribadah

Untuk mengamalkan sifat keadilan ,sang Budha mengajarkan agar kita menggembangkan sifat-sifat Brahma Vihara, yaitu:[11]

  1. Metta (cinta kasih) : Sikap batin yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk,tanpa membedakan sedikit pun.
  2. Karuna (Welas Asih) : Sikap batin yang timbul apabila melihat penderitaan makhluk lain dan berhasrat untuk menghilangkan atau meringankan penderitaan itu.
  3. Mudita (Empati) : Suatu bentuk perasaan yang menempatkan diri kita seperti keadaan yang lain; ikut merasakan penderitaan ataupun kebahagiaan orang lain.
  4. Upekkha (Keseimbangan Batin) : Sikap batin yang seimbang dalam segala keadaan oleh karena menyadari bahwa setiap makhluk hidup memetik hasil dari perbuatannya sendiri.

 

Jacko Ryan 2016.

__________________________________

footnote

[1] berdasar buku Pdt. Dr. Rijnadus A. Van Kooij , Menguak Fakta , Menata Karya Jemaat : Sumbangan Teologi Praktis dalam Pencarian Model Pembangunan Jemaat Kontekstual  (Jakarta , 2007

[2] lihat dalam buku Edmund Woga , Dasar-dasar Misiologi ( 2002) mengenai Missio Dei

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Missio_dei

[4] Secara garis besar , Keluaran 20 berbicara tentang 10 perintah Allah ( dekalog) yang berbicara mengenai hubungan Allah – Manusia dan Manusia-Manusia. Inilah salah satu ‘hukum’ yang ada di perjanjian lama.

[5] Matius 22: 37 merupakan ayat awal dari ‘Hukum yang terutama / hukum kasih’ inilah salah satu ‘hukum’ yang ada di perjanjian baru

[6]  ‘kekuasaan’ ex chatedra hanya dimiliki Paus sebagai Uskup Roma , dimana Paus mengeluarkan suatu dogma / doktrin yang menyangkut keputusan Gereja Katolik. Ex chatedra juga memiliki hubungan dengan kekuasaan Infalibitas Kepausan – lebih lanjut baca di https://id.wikipedia.org/wiki/Infalibilitas_kepausan

[7] Lihat paper Prof. Dr. Musdah Mulia yang berjudul ‘ Merawat Toleransi Beragama di Indonesia’ hl. 5

[8] https://id.wikipedia.org/wiki/Sunnatullah

[9] http://indonesian.irib.ir/islam/al-quran/item/71083-Tafsir_Al-Quran,_Surat_Yunus_Ayat_98-100

[10] viharagunavijaya.com/buddhisme-dan-toleransi-beragama-oleh-pmd-haris-s-ag/

[11] http://daivardha.blogspot.co.id/2013/01/firman-tuhan-mewujudkan-keadilan-dalam.html

tentang penulis:

Jacko Ryan , Lahir 3 Juli 1999 di Jakarta . sekarang menempuh pendidikan sekolah menengah atas (SMA) Kolese Gonzaga , Jakarta. penulis bisa dihubungi melalui jackoryan28@yahoo.com

 

 



Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *