Internship at Traveloka Part 2, Life at Traveloka

Welcome to the Part 2 of my internship experience journey at Traveloka! Untuk post yang kedua ini gue akan lebih fokus bahas day-to-day life gue selama 3 bulan magang di Traveloka. Hal-hal yang ingin gue fokuskan disini adalah company’s value, culture and working-atmosphere, facilities and benefits, dan hal-hal lain yang menurut gue menarik dari Traveloka. So without further ado, let’s check it out one by one!

1. Company’s Value

giphy8

Value yang diteguhkan Traveloka itu Challenge, Autonomy, dan Openness.

Challenge itu maksudnya Traveloka suka memberikan tantangan kepada seluruh karyawannya, atau kalau sesuatu itu kurang menantang, ditambah lagi tantangannya. Jadi, kalau dari kacamata gue, Traveloka demen satu orang handle beberapa tanggung jawab sekaligus daripada tanggung jawab itu dibagi ke beberapa orang. Like, sebelum gue dateng magang, supervisor gue yang hanya satu orang itu, punya 13 campaign sepanjang bulan Mei – Agustus. Bayangin kalau dia gak pake anak magang, gimana coba itu ngerjainnya :”)

Value challenge ini pun turun juga ke anak magang. Kalau kita mikir anak magang itu dateng untuk mengerjakan hal-hal yang ringan dan banyak mendengar dan menyimak untuk belajar, disini engga. Beneran dikasih kerjaan yang bener-bener kalau lo gagal, akan impact ke perusahaan :’)

Autonomy, jadi Traveloka percaya bahwa setiap orang akan perform their best apabila mereka bergerak sesuai dengan pace-nya masing-masing, jadi semua karyawan diberikan kebebasan. Kebebasan disini maksudnya kerjanya boleh dimana aja (mobile) gak harus di desk, masuk boleh jam berapa aja, dan kapan aja:) BENERAN. Disini gaada absensi-abesnsian, gue aja selalu masuk jam 10 :”) Dan pernah gue gamasuk 4 hari, dan itu gak ngaruh di gaji (jadi gajinya dipukul rata gitu, dibayar per bulan). Supervisor gue aja pernah dalam seminggu masuk cuma sekali, supervisor gue yang lain masuk jam 12. Astagadragon :”) Pokok’e Traveloka lebih mentingin kerjaan lo selesai aja, mau lo lebih nyaman kerja di luar, masuk jam 12, intinya kerjaan kelar. Udah.

Pasti kalian mikirnya enak banget kan? But, for every freedom, comes a great responsibility. Karena karyawannya diberikan kebebasan yang bejibun ini, tanggung jawabnya harus terpenuhi semua. Dan kadang kalau lagi hectic, hectic banget. Temen magang gue aja ada yang masuk jam 9 pulang jam 9 lagi. Jadi autonomy ini ya harus dipergunakan sebijak mungkin juga.

Gue merasa autonomy ini juga diimplementasikan ke anak magangnya. Gue tahu, banyak  perusahaan yang klaim bahwa anak magangnya diperlakukan layaknya karyawan (work-wise), tapi gue rasa Traveloka lah yang benar-benar mengamalkannya secara harafiah. Gue magang disini, supervisor gue gak segan delegasi tanggung jawabnya ke gue, with minimum or even without supervision. Sepercaya itu supervisornya ke anak magang, layaknya karyawan yang sejajar.

Contoh konkritnya adalah ketika gue ingin mengirim email. Ini adalah contoh yang sangaaaaat simpel namun sangat mencerminkan bagaimana suatu perusahaan memperlakukan karyawannya banget. Jadi tiap kali gue mengirim email ke eksternal (berhubung gue social media intern specialised in influencers yang harus banyak email influencers) supervisor gue gapernah minta di-CC atau BCC. KENAPA GESTUR INI BEGITU KRUSIAL? Karena menurut Simon Sinek ini mencerminkan sejauh apa seorang pemimpin mempercayai membernya. Dan CC dan BCC email ini juga merupakan sebuah bentuk micromanagement, yang sebenarnya bukan praktek yang baik dilakukan oleh seorang pemimpin (untuk tahu lebih jauh soal ini, click here). Jadi menurut gue, dari supervisor gue gak minta di-CC atau BCC ini sebenarnya gue udah dipercaya untuk berjalan sendiri secara autonomous.

Bukan hanya itu, menjelang akhir magang setiap anak magang juga dikasih personal project yang harus kita jalanin sendiri (tetep dibantu supervisor, tapi tanggung jawabnya fully di tangan anak magang) dan akan dipresentasikan juga ke seluruh tim pas akhir magang. Contohnya gue, dikasih project %$&*# juta untuk gue handle sendiri (maaf nominalnya disensor, confidential. Tapi yang pasti jumlahnya bener-bener GEDE, anak magang jelata seperti gue kaget pas dikasih) DAN ITU DIKASIHNYA H-1 GUE SIDANG SEKERIPSI DONG. Bayangkan betapa syoknya aku.

Dan gue inget juga betapa temen-temen magang gue yang lain udah pada stress semua menjelang akhir magang karena project mereka udah buntu gitu ahahaha. Gue juga sih ada beberapa kendala selama project gue, tapi gue berusaha bawa hepi ajalah.

Nah btw, gue mau kasih saran juga nih buat kalian anak magang atau yang akan magang. Kalau kalian dikasih tanggung jawab terus kalian stress dan merasa buntu, jangan segan berpaling ke supervisor kalian. Tanya aja, minta nasehat atau solusi. Toh tujuan utama kalian disitu adalah untuk belajar, bukan bekerja. I repeat, lo magang itu buat belajar bukan bekerja. Kenapa gue menyarankan ini, karena dari sekian pengalaman magang gue, pasti temen-temen magang gue akan ada masanya merasa begini. Merasa gak enakan nanya, akhirnya stress sendiri dan pressured sendiri. Listen, the least thing you want to have when dealing with a problem is to feel alone. Jadi kalau kalian merasa buntu dan gabisa cari solusi sendiri, inget, jangan segan ‘ngerepotin’ supervisor maupun karyawan lainnya. Gaperlu merasa gak enak ngerepotin supervisor kalian atau bahkan karyawan lain karena itu juga tanggung jawab mereka ke anak magang. Fungsi anak magang selain membantu pekerjaan karyawan, juga sebagai objek latihan karyawan untuk mempraktikkan dan mengembangkan skill kepemimpinannya. Jadi sebenarnya kalau kalian datang ‘ngerepotin’ supervisor kalian, you’re also helping them out.

Oke maap jadi menyimpang dikit, but I just gotta share that. Anyway back to the topic.

Yang terakhir itu Openness. Openness yang dimaksud Traveloka itu, mau lo siapa, jabatan lo apa, berapa lama kerjanya, asalnya dari mana, etc. you are welcomed to contribute and be a part of anything in Traveloka. Bisa aja lo baru kerja sebulan terus kalau ide lo bagus, ya ide lo itu yang diambil buat next project. Atau lo asalnya dari luar tapi kontribusi lo bagus di Traveloka, lo bisa tetep dihire. Atau lo hanyalah seorang anak magang jelata tapi ruang kontribusi dan ide tetep terbuka lebar buat lo, jadi Traveloka ga ngeliat status lo. Whoever has the best to offer, wins. 

 

2. Culture and Working Atmosphere

giphy7

Traveloka mungkin sudah established as corporate now, dia bukan lagi terhitung sebagai perusahaan startup, tapi culure startup-nya masih kerasa banget sih selama gue magang. Culture startup yang gue maksud disini itu yang kerjanya kudu cepet, fleksibel, dinamis, dan but still fun karena masih penuh dengan millenials. Like, katanya umur rata-rata Lead disini itu berkisar 28-ish. VVOVV. Working attire nya juga gak formal, baju sehari-hari yang kasual gitu. Pakai sendal pun juga gak apa-apa haha.

Kalau dari kacamata gue, budaya disini sudah cukup menyenangkan dan nyaman untuk anak muda. Disini gak hierarkis, dalam artian yang bawah harus secara absolut dengerin yang atas, unlike the corporate stereotype we all know. Komunikasinya juga dua arah, jadi antara atasan dan bawahan bisa saling kasih masukan. Selama magang disini gue juga terbuka memberikan ide dan menunjukkan ketidaksetujuan ke supervisor gue dalam beberapa hal, dan itu beneran direspon.

Btw, culture Traveloka yang pertama kali gue paling ngeh itu mereka bukan hanya terbuka pada ide baru, namun juga menantang lo untuk ngasih ide. It’s pretty different when you work in a company where they are just open to your ideas to a company where they encourage you to idea. Ini kembali lagi ke value Traveloka yang Openness tadi. Selama ini kalau kita magang pasti perusahaan akan bilang “Eh kalau ada masukan bilang aja”. Tapi disini gue ngasih ide beneran didengerin, dipertimbangkan, dan dilakuin. Pas awal magang aja supervisor gue sudah secara proaktif menanyakan “Eh kamu ada ide gak” dan “Heh ikut mikir lo” HAHA.

Selain fun, disini juga disiplin. Segala sesuatu harus dijadwalin lewat Google Calendar gitu. Jadi kalau ada kegiatan apa-apa, selalu dibuatin invitation Google Calendarnya, jadi pada gak lupaan gak mengganggu jadwal lainnnya. Sebelum masuk pun, Traveloka emang udah kelihatan disiplinnya sih. Selama proses seleksi mereka tuh rapi banget, gak ada seleksi yang lompat-lompat, sesuai urutan. Kalau lo keterima magang kadang hanya diemail, di Traveloka ditelpon dulu baru diemail.

Terus yang gue anggap menarik juga ada sistem komunikasi open-communication gitu. Jadi di Traveloka pakai Slack, semacam fesbuk yang dikhususkan untuk satu perusahaan gitu. Jadi kita bebas bikin grup dan thread disitu, dan semua karyawan is free to join any group or thread they want. Biasa dipakai buat kerja juga, atau tanya jawab seputar produk Traveloka (kan kadang ada tuh kalau lo kerja dimana terus temen lo nanya tentang produk perusahaan lo, nah Slack ini juga difungsikan untuk itu jg) atau buat asik-asikan karyawan aja bikin grup atau thread tertentu hehe.

Hal lain yang cukup menarik perhatian gue juga adalah vibe kantornya. Karyawan-karyawan disini kalau kerja fokuuuuus banget:’) Jadi lumayan hening gitu kantornya. Untuk ukuran tech company yang baru lulus dari startup, ini menjadi sebuah perhatian sih menurut gue.  Beda sama 2 tempat magang gue sebelumnya yang dikit-dikit main, dikit-dikit heboh/rame, disini kayaknya gabisa gue tau-tau beranjak dari tempat duduk dan teriak “EH GAES McD LAGI PROMO BUY ONE GET ONE SIAPA YANG MAU PESEN???”. Pasti krik wkwkwkw. Karena working atmosphere-nya terlalu work-y bagi anak ekstrovert macem gue, akhirnya gue suka pindah ke pantry karena disitu atmosfirnya lebih santai dan gue bisa tidur-tiduran hehe. Dan kadang suka ngumpul dengan fellow interns dan kita jadinya ngobrol sambil bekerja hehe.

3. Facilities and Benefits

giphy9

Oke jadi pertama yang akan gue sharing adalah fasilitas dan benefit untuk anak magang disini. Untuk ukuran anak magang jelata, Traveloka sangat generous sih menurut gue. Pertama, kita masing-masing dapet laptop beserta tas dan tetikusnya. Laptopnya juga yang sama dengan karyawan. Selain laptop kita digaji juga dan dapat tunjangan BPJS. TUNJANGAN BPJS. KASIH TAHU GUE PERUSAHAAN MANA LAGI YANG NGASIH ANAK MAGANGNYA TUNJANGAN BEPEJEES. I’LL WAIT. Oh and gajinya? Nah gue banyak dapet pertanyaan ini pas awal masuk hahaha, tapi intinya as I said, Traveloka itu sangat generous. Jadi gaji itu gak perlu khawatir lah kalian, sangat cukup untuk makanan sehari-hari kok. Oh and if you have a car, dapet free parking juga wiiiy.

Consumption-wise Traveloka nyediain sarapan dalam bentuk sereal, susu, dan buah yang akan diberesin setelah jam 11. Selain itu ada drink station yang isinya kopi-kopian, teh-tehan, susu-susuan, nutrisari-nutrisarian dan ada juga mesin latte. Makan siang dalam bentuk nasi box. Setiap lantai beda beda nasi box, jadi kalian bisa explore menu makan siang setiap lantai. Tiap minggu dirotasi juga nasi boxnya jadi ga bosen-bosen lah. Makan siang ini juga bisa buat malem juga, bisa kalian angetin lagi pakai microwave di pantry.

Terus gue mau cerita sedikit juga soal interior design kantornya. So far menurut gue lumayan menarique, rapih, bersih, sophisticated, atau kalau gue put into two words desainnya itu “vibrant sophistication“. Tapi itu desain kantor lantai gue sih. Desain interior per lantai beda-beda gitu, tapi rata-rata feel-nya sama hehe.

Pantry

Pantry

Traveloka Marketing Analytics Center

Traveloka Marketing Analytics Center

Ruang Meeting

Ruang Meeting

Marketing Digital Corner

Marketing Digital Corner

Merkipun work-wise Traveloka cukup fokus dan hening, ada saatnya employee melepas penat. Jadi di Traveloka tiap 3 bulan (per quarter) ada namanya outting, kegiatan dimana tim/divisi melakukan kegiatan bareng-bareng dengan tujuan melepas penat. Dan sekaligus bonding juga. Pas gue magang, acara outting-nya Archery Clash, jadi kita dibagi jadi per kelompok dan saling berkompetisi gitu. Temen gue dari divisi lain outtingnya  ke Anyer nginep 2 hari 1 malem :”))) Yang jadi panitia untuk setiap outting ganti-ganti per quarter dan merupakan anggota dari divisinya itu, makanya beda-beda. Dan kegiatan outting ini juga di-budgetin, so I was like hmm ok Traveloka lehuga. Jadi menurut gue Traveloka cukup invest juga ke employee-welfare.

20180716_165448Outting dengan SEO-Social Media Team di Archery Clash, Gading

Nahhh kalau udah jadi full-time employee disini benefitnya apa aja? Lebih generous lagi sih menurut gue. Dan ini yang gue inget aja:

  1. Tunjangan kesehatannya upgrade, bukan BPJS aja, dan itu cover semuanya seperti inpatient, outpatient, dental, vision (buat kacamata), dan maternity. Dan kalau udah berkeluarga, keluarga lo juga ikut dicover juga.
  2. TRAVEL BENEFIT:”) Apa itu Travel Benefit? Intinya lo pakai produk Traveloka (Flight, Hotel, Train, etc.) terus nanti direimburse sama Traveloka. Ya intinya kalo lo jalan-jalan pake app Traveloka, jalan-jalan lo dibayarin. The longer you work here, your reimbursement quota increases.
  3. Training and Learning. Ini sih benefit yang paling gue suka, berhubung gue seorang nerd. Jadi as employee lo akan mendapatkan training yang sesuai dengan pekerjaan lo ATAU kalau lo ada additional training yang mau lo ambil dari luar, lo bisa apply ke Traveloka untuk nantinya dibayarin. Gak berhenti disitu aja, Traveloka juga subscribe Harvard Business Review sama (apa gitu satu lagi gue lupa, tapi sejenis juga) buat bisa dibaca-baca sama employee-nya.
  4. Ohiya selain tunjangan kesehatan yang nge-cover fisik, Traveloka juga peduli sama mental health, jadi lo bisa pakai jasa therapist/psyhoclogist (third party yang udah kerjasama ma Traveloka) kalau lo butuh semacam release dari personal problems or mental health issues, bisa banget nih. Untuk yang ini gue salut sih sama Traveloka, jarang ada perusahaan yang peduli sama mental health gini. So good for you!
  5. Terus sisanya yang basic, seperti fasilitas free parking, annual leave (cuti)12 hari per tahun, mobile allowance (duit pulsa gitu), free lunch, etc.

Ini ajasih ya yang gue inget……. Maap kalau ada yang kurang atau yang kurang akurat, waktu itu dikasih tahunya banyak banget dalam waktu yang sebentar lol.

 

4. Interngabut

INTERNGABUTSekelompok intern traveloqah yang lelah dengan drama pekerjaan, melepas penat dengan karaokean

Judulnya sedikit ironis sih, karena pada kenyataannya kita gak gabut samsek:) Ke pantry ngumpul hanya untuk diem-dieman sambil ngetik depan laptop hahaha:’)

Jadi gue magang di Traveloka itu sebenarnya lewat Traveloka Internship Program, bukan magang-magangan biasa. Magang selama program internship ini menurut gue lebih beneficial daripada lo magang di luar program itu, karena selama program magang ini kinerja lo beneran dinilai, ada assessment sheet-nya gitu dan yang isi itu supervisor lo #jengjeng. Terus pengalaman magang lo juga dimonitor sama HR dengan memberikan feedback pas awal dan akhir periode magang, untuk memastikan pengalaman magang kita berbobot dan gak cuma fotokopi dan ngeprint aja (meskipun mustahil segabut itu). Selain itu kita juga dibuatin acara khusus namanya Intern’s Day dimana semua interns dikumpul jadi satu selama seharian untuk ikut sesi bincang-bincang mengenai Life at Traveloka dari salah satu karyawannya, bonding dengan cara games, terus performance (jadi kita ada 40an kan, dibagi jadi 7 kelompok dan tiap kelompok harus mempersembahkan live performance gitu haha kocak) ,terus internnya juga bisa saling kenal satu sama lain dan saling sharing juga. yang dipersembahkan oleh anak-anak magangnya langsung. This is a good initiative for interns to grow imo.

Sayangnya deskripsi di atas hanyalah berdasarkan cerita interns lainnya karena  gue gak dateng Intern’s Day—ada sidang sekeripsiHAAAAAAA SEBEL. But yeah kurang lebih seperti itu.

Anywaaaay, back to topic. Interngabut itu sebenarnya sebutan untuk circle gue selama magang kemarin, sekumpulan anak-anak ITB, UI. dan Hong Kong yang masih tahun kedua dan ketiga….. gue mah hanya debu disini. (But srsly tho, dari sekian 40an anak magang, rata-rata emang anak ITB, UI, sekolah luar, terus sisanya Binus cuma ber-6 dan 1 univ lain, omg ) Buuuuuut despite the differences, we all got together just fine, tuh buktinya foto di atas hehe. Gue rasa gaada interns yang drama atau nyebelin juga selama gue magang, semua anak baik-baik, pinter-pinter, dan ambis juga gitu. Menyenangkan juga bagi gue untuk berkumpul dengan anak muda yang aktif jadi ambassador, win awards, join youth leadership programs, nonton TED juga, bercita-cita punya tech company sendiri, dan bahkan ada yang udah punya startup sendiri. They all seemed more than meets the eyes, gue suka kalau lagi ngobrol dengan mereka, ceritanya unik-unik dan inspiring gitu. Berada di dalam lingkungan itu memotivasi gue untuk striving to be better juga.

Selain itu Interngabut juga menjadi support system gue selama magang. Kalau gue udah capek kerja gitu, gue suka ngajak jajan atau kerja bareng. Maklum ya ekstrovert jadi butuh asupan ngobrol kalau udah worn out  And I think this is important too, wherever you work you need to find people who can be your support system. Doesn’t have to be in the same team, selama mereka adalah orang-orang yang bisa jadi senderan lo ketika udah demotivated gitu. They could be the one saving you in your most stressful moments. 

 

5. My Life at Traveloka

giphy10Me & My Social Media Team️

Jadi pas awal magang maupun kerja, Traveloka selalu ngadain yang namanya Onboarding, semacam masa pengenalan gitu. It’s a two-day briefing thing dimana semua new interns and employees diumpullin jadi satu terus diberi penjelasan mengenai Traveloka, dari segi company structure, culture, working day-to-daynya, facilities & benefits, etika bekerja, dan ada sharing session jg dari salah satu karyawan tetapnya.

ME_ONBOARDING_1Gue onboarding dengan para anak magang dan karyawan baru lainnya yang masuk hari itu jugaTraveloka Starter KitTraveloka Starter Kit, yang dikasih pas Onboarding ke setiap karyawan baru, isinya notebook, botol minum, stiker, kaos, dan surat greetings dari CEO-nya. How thoughtful!

Pas onboarding dijelasin bahwa kerja di Traveloka itu jangan kaget, bisa tahu-tahu hari pertama langsung hectic. Like the naive intern that I was, gue mikirnya “Ya itu paling karyawan atau intern divisi lain lah, gue gamungkin lah”. Eh… tahu-tahu selesai onboarding supervisor gue langsung nembak “Kamu hari ini pulang jam berapa? Nanti ikut meeting bareng influencers ya”  (Gue magang bagian Social Media for influencers btw) Tiga hari pertama magang gue gue habiskan di luar untuk ikut acara buka puasa bareng influencers yang udah menjadi kesayangan Traveloka (so to speak). Beneran jangan kaget indeed

As I said di atas, gue masuk kantor selalu jam 10 – 11 pagi, pulangnya biasa jam 7-8, karena gue juga gak suka pulang jam 5-6, males kena macet. Biasanya pagi gue suka sarapan dulu, baru sekitar jam 10.30 gue mulai kerja. Gue awalnya suka kerja di desk gue, tapi makin kesini gue jadi suka kerja di pantry, karena gue merasa lebih nyaman kerja disitu ahaha. Ah yes, gak ada yang masalah juga kok kalau lo gak kerja di desk lo, lo bisa kerja dimana aja. Gue bahkan sama temen magang gue pernah booking room yang ada bean bagnya buat kerja bareng. Selama WhatsApp / Slack lo aktif, supervisor lo nyariin juga gampang.

Untuk pekerjaan gue sendiri, gue merasa kerjaannya gak berat-berat banget, so far yang masih bisa dihandle gitu. Tapi mungkin pas awal gue banyak banget bingungnya karena belom apa-apa udah diajak “lari” gitukan. Jadi masa adaptasi gue lumayan lama di Traveloka, karena gue merasa banyak yang perlu dibiasakan. But afterwards, setelah lo udah hapal sama culture tempat kerja lo dan kerjaan lo sendiri, jadinya enjoy aja. Ya ada masa-masa dimana gue stress dan marah-marah sama kerjaan sendiri lol tapi selalu ada yang bisa jadi teman cerita, be that my own supervisor, karyawan lain, or even fellow interns.

Nah btw gue kan bagian Social Media untuk Influencers, yang bikin pengalaman magang gue beda disini adalah gue juga harus bisa menghimpun hasil kerjasama dengan influencer-influencer itu dalam bentuk angka untuk dilihat kerjasamanya efektif apa engga. Menurut gue ini adalah sesuatu yang beda, karena di dua tempat magang gue sebelumnya sosial media hampir gaada hitung-hitungannya, bener-bener pure bikin content, posting, dan interaksi dengan netizen aja. Sehingga bisa dibilang magang gue faedah banget disini meskipun cuma 3 bulan, gue jadi bisa dapet insight yang berguna untuk jenjang karir berikutnya.

Di divisi gue juga selalu ada Sync tiap minggunya agar setiap team member ketawan progressnya udah sampe mana dan apa aja. Dan sekaligus jadi ajang dimana member yang lain bisa kasih input untuk member yang lain juga. Sync ini juga diterapkan di semua divisi btw, gak cuma divisi gue aja. Transparency is a good practice when working with other people, apalagi kalau organisasinya udah gede macem Traveloka. Oh iya, Traveloka juga gak takut untuk disclose any confidential or important informations di depan anak magangnya. Mereka akan beneran ngasih tahu any kinds of numbers ke anak magangnya sehingga, menurut gue, ini membuka pintu lebih lebar lagi bagi anak magang untuk belajar dan berkontribusi. Like, how do you expect interns to help you kalau yang diketahui anak magangnya ya yang itu-itu aja?

SAMA SATU HAL LAGI yang gue sadari dari kerja di Traveloka. Disini gaada yang namanya “salah dan benar”.

Jadiii menjelang akhir magang gue dikasih projek kan. Dikasih budget sekian dan harus bisa menghasilkan angka sekian. Long story short, angka yang dihasilkan projek gue tidak melebihi yang seharusnya, kayak ada anomali gitu. Sebagai yang menjalankan projeknya gue udah tahu dan mengakui kesalahan gue, bahkan gue udah ngomong gue tuh salahnya disini sehingga hasilnya begini. Pas presentasi gue udah bisa prediksi reaksi dan feedbacknya akan seperti apa. I was kinda expecting “Ohiya Vi bener kamu seharusnya gak begini lalala”. Tapi ini engga. Instead kita semua, satu divisi, we ran the data all over again untuk cari tahu anomalinya. Yang seharusnya presentasinya kelar 1 jam, jadi 2 jam. JADI LEBIH SUSAH DARI SIDANG SEKERIPSI

Gue udah tegang banget selama presentasi karena gue mikir “Omg could it be gue ada salah yang tidak gue ketahui lagi?! Tapi gue udah yakin banget angkanya segini dan salahnya disini:(“. But, supervisor gue bilang ini gak lagi nyari kesalahan, maupun sedang menyalahkan gue (meskipun gue udah siap aja kalau disalahin). They just said they wanted to study this and concluded that stuffs like this is possible to happen.

Selesai presentasi gue rada gak semangat sih. Karena gue masih mikir gue salah tapi merekanya aja yang gamau bilang gue salah. Akhirnya gue curhatlah ke salah satu temen magang gue, sebut saja namanya Joko. Joko bilang kalau gue gaperlu merasa demikian karena di divisi dia juga begitu. Traveloka gak nyari salah dan benar, hanya mencari cara yang lebih akurat lagi untuk melakukan sesuatu. Dia cerita pernah jabarin hitung-hitungan untuk projek dia panjang lebar hanya untuk dibalas “Hm Jok, sepertinya ada cara yang lebih simpel lagi.” Traveloka gak akan bilang lo salah, meskipun lo pikir lo salah.

Entah apakah ini beneran culture untuk semuanya, atau hanya divisi gue dan Joko, but I kinda like that mindset. That instead of searching for faults, just focus on studying the occurrences so you can improve better in the future.

To sum it up, pengalaman magang gue di Traveloka ini lengkap sih. Tiga bulan dapet semua; stress, ilmu, temen, seneng, sedih, DAN gue dapet habit baru. Gue jadi lebih berani untuk explore Indonesia gitu HAHA. Jadi selama gue magang di Social Media, gue selalu terpapar gambar-gambar destinasi Indonesia yang instagrammable kan, gue jadi “Anjir gue pengen kesini jadinya!”. Alhasil setelah selesai magang, gue jadi lebih spontan kemana-mana, like, gue langsung spontan pesen tiket ke Jogja dan jalan-jalan sendiri gitu HAHA #okeskip.

Would I recommend you interning here? ABSOLUTELY! Untuk tahu cara apply internship di Traveloka, bisa cek post gue yang satu lagi disini ya!

Berikut adalah foto-foto dokumentasi selama gue magang di Traveloka sebagai gambaran:

20180607_182729Foto bareng untuk menyambut lebaranImage from iOSNgerayain ulang tahun salah satu karyawanIMG-20180821-WA0004Farewell dinner untuk beberapa karyawan yang sudah “lulus” dari Traveloka20180607_174833Pengenalan Intern baru di divisi SEO-Social MediaME AND TEAM 2Me & My Team

THANK YOU FOR READING THIS FAR! Hope you find it useful. Leave a comment if you have questions.

Here’s a dancing potato as thank you!

giphy11

Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *