Cerita Pengalaman Magang dan Kerja di Traveloka


Hello, people.

Bulan Juli 2017 ini menandakan bulan terakhir aku di Traveloka, setelah 5 bulan internship dan (hampir) 6 bulan bekerja, karena bulan Agustus 2017 nanti aku akan berangkat S2 di Belanda insya Allah. Di post ini, aku mau menceritakan the perks of working at Traveloka. Aku berusaha menceritakan seobjektif mungkin yaa.

Sebagai note, post ini gak disponsori Traveloka (ya iyalah wkwk), dan tentu saja apa yang aku sampaikan bukan merupakan pendapat Traveloka melainkan pendapatku pribadi. Sejujurnya, aku punya misi pribadi dalam menulis post ini. Sedikit cerita, biasanya kalau teman mama papaku ditanya aku kerja dimana, mereka akan jawab di Traveloka, dan orang akan mengira aku jadi mbak-mbak agen travel. Tanpa mendiskreditkan agen travel, orang-orang mengira kerjaanku itu booking-bookingin tiket orang wkwkwk. Nah, aku harap sih untuk para job-seeker dan internship-hunter di luar sana, gak pada mikir kaya gitu yaa. Jadi, aku mau meluruskan semua hal itu. Apalagi, sebetulnya bekerja/internship di Traveloka itu cukup prestisius loh!

Di post pertama ini aku akan bahas ke hal-hal yang lebih serius soal Traveloka. Cekidot!

Kerjaannya ngapain sih?

Aku merupakan bagian dari Tim Product Marketing Manager Hotel Indonesia (PMM-ID). In a nutshell, kerjaanku itu bikin strategi gimana cara biar orang-orang pada mau book hotel yang ada di Indonesia via Traveloka. Caranya dengan menganalisis data marketing, melakukan riset pasar, menganalisis kompetitor, brainstorming ide baru, memberi ide pengembangan produk, melakukan banyak ad-hoc project, dll. Seru deh!

Side note: Traveloka currently ada di Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Phillipines dan Thailand. Jadi makanya ada beberapa tim yang spesifik ngurus negara tertentu. Aku spesifik urus market Indonesia. Harus berbangga loh start-up asli Indonesia expand nya udah ke 5 negara di luar Indonesia!

Selain timku, ya ada banyak lagi tim lainnya dongs. Ada tim offline media marketing yang sering ketemu artis dan production house, ada tim display yang kerjanya bareng orang Google, ada tim produk yang misinya harus mengembangkan produk Traveloka agar memenuhi user needs, ada tim design yang bikin desain-desain yang ada di Traveloka, ada tim UX yang memastikan app Traveloka gampang digunakan, ada tim Operation, ada tim Customer Service, ada tim People Operation, ada tim Finance, dan masih banyak lagi!

We are a very very huge team. Karyawan Traveloka yang ada di 6 negara itu udah hampir mencapai 1500 orang (atau udah lebih ya?). Tiap orang berkontribusi besar untuk kemajuan perusahaan 🙂

Development nya seberapa besar?

I would say that it’d depend on your supervisor/manager. Not everybody makes a great leader, thus not everybody would nurture you to grow. The same thing happens in Traveloka.

I would say my boss did a good job, even tho I know some other Traveloka managers who are an excellent leader said my friend. Bosku hanya terpaut 1 tahun di atasku! Dia anak 2011, dan aku angkatan 2012. Tapi, terlepas dari peran bos, Traveloka menjamin setiap orang punya room to grow.

Khusus untuk timku, kami benar-benar diberi kebebasan untuk mencari ide strategi marketing. Bahkan cara untuk menganalisis data saja tidak ada cara yang saklek. Sangat sangat seru banget buat orang yang gak suka kerjaan rutin. Mostly di Traveloka (even tho not all), kerjaannya itu dinamis banget. Bisa jadi karena dipengaruhi fakta bahwa kultur nya masih start-up banget ya.

Enaknya lagi, kalau kita punya ide yang bagus dan membangun, gak perlu bertele-tele sampai idemu itu diwujudkan. Misal aku pernah megang ad-hoc project mengenai social media competition. Dan aku memiliki ide untuk eksekusinya. Bosku sangat percaya dan menerima ideku dengan baik. Besok harinya ideku diimplementasikan ke kompetisi itu. Even if you’ve only been working for 2 months! 

Kalau di korporat……………………………..yah sulit kayanya mau ngerubah sesuatu aja alurnya panjang banget kan. Di kantor kami, mau diskusi sama Division Head atau bahkan CMO (Chief Marketing Officer), gak perlu masuk ruangan khusus dan deg-degan. Orang kalau lunch sebelahan dan ngobrol biasa saja. Gak ada sekat sis!

Jadi, untuk para development seekers, Traveloka tempat yang baik buat yang pengen mendapat banyak pengalaman!

Sesusah apa sih masuk sana?

Dulu aku pertama kali daftar Traveloka itu sekitar Maret 2016, dan mulai kerja akhir Juli 2016. Jaman dulu, aku daftar sebagai intern, jadi relatively gak sesulit masuk sebagai full-timers. Bisa dicek postku soal seleksi intern Traveloka disini yaa.

Anyway, magang atau kerja di Traveloka itu cukup prestisius. Apalagi lately, Traveloka mulai picky ke candidates nya (mungkin karena tim nya udah besar ya sekarang). Hal ini terefleksi dari cukup sulitnya diterima disini. Gak cuma 1 atau 2, tapi banyak cerita dari temanku mengenai seberapa kecewanya mereka gagal di tahap seleksi Traveloka.Jadi dear parents, anakmu hebat loh bisa lolos seleksi di Traveloka 😉

To be frank, GPA, background akademis, pencapaian selama kuliah, dan pengalaman yang berhubungan dengan function yang kamu apply sangat diperhitungkan ketika seleksi awal, minimal biar kamu bisa dipanggil untuk ikut seleksi selanjutnya. Jadi, yang bilang gak perlu punya GPA tinggi itu… berarti menyerah duluan ah. Bottom line nya, bikin CV yang bagus ya! Syukur-syukur kamu bisa menemukan kakak kelasmu yang kerja di Traveloka dan mau merekomendasikanmu ke HR.Lebih beruntung lagi buat kamu kamu yang memang dikejar oleh HR Traveloka dari awal 😉

Lalu ada seleksi online (jamanku belum ada, tapi kemudian ditambahkan gak lama setelah aku masuk), dan wawancara berlapis (berlapis karena interview usernya berkali-kali wkwk). Akan sangat membantu kalau sebelum seleksi kalian review ‘materi’ yang kalian ‘jual’ ke Traveloka (misal kalau anak IT yo direfresh lagi itu ngoding yang baiknya gimana), plus sedikit latihan GMAT terutama buat yang mau jadi Business/Marketing/Data Analyst.

Budaya kerjanya kaya apa?

Traveloka does not act like a typical start-up anymore. Ini yang harus aku garis bawahi. Traveloka sudah berdiri selama hampir 5 tahun, jadi tentu sudah gak sepenuhnya sebuah start-up. Apalagi dengan jumlah employee dan revenue yang kaya korporat…. Tapi masih ada juga budaya yang dipertahankan dari root start-up nya 🙂

Pertama, jam kerja. Dulu jaman aku pertama jadi intern, bosku bisa baru datang ke kantor jam 11.30, dan pulang jam 21.00. Dulu, aku datang jam 9.45 itu adalah yang paling pagi diantara anggota timku. Typical start up banget kan untuk come as you wish, menyesuaikan jam produktifmu. Tapi lately, dibuat semacam agreement untuk datang jam 10 (setidaknya sebagian besar tim di Marketing ya). Gak ada sih peraturan tertulisnya, tapi more kaya expectation dari team leader atau norm gitu. Dan bahkan ada beberapa tim juga yang menerapkan, kalau telat sedikit harus langsung e-mail (meski timku cukup kirim chat di grup aja). I’m not sure apakah ini kemajuan atau kemunduran, karena justifikasinya adalah agar membuat koordinasi antar tim jadi lebih mudah which is true. Aku pun gak ada masalah karena sudah terbiasa datang jam 10 dari awal. Tapi, buat kamu yang mengharapkan iklim start-up yang come as you wish, mungkin ini bisa jadi pertimbangan.

Kedua, baju. Yap, di Traveloka (dan kebanyakanstart-up lainnya) masih menerapkandress as you wish. Dress, jeans, kaos, blus, jas, kemeja, polo, hoodie, apapun silakan aja pakai. Karena Traveloka percaya kalau produktifitas bekerjamu gak dipengaruhi oleh apa yang melekat di badan 😀 Ada masa-masa ketika sedang gak enak badan, aku hanya pakai hoodie, jeans, dan sandal jepit.And nobody cares! Kalau aku sih melihatnya, toh yang mendapat benefit mengenaihow presentable you are itu diri kita sendiri, bukan employer. Oh ya tentu saja kalau kamu adalah tim yang banyak berhubungan sama third party atau customer, tentu harus baik dong ya cara berpakaianmu (misal timoffline media, market manager, dll.).

Ketiga, high-achiever colleagues. Yap, another start-up traits. Teman-teman kerja sangat high-achiever, bahasa kuliah nya ‘ambis’. Which is good for your development dong! Tapi sedihnya ya kadang meetingnya di jam makan siang, gak kenal jam kadang kalau ngirim dokumen, jarang ada small talks (jam makan siang kadang dipake ngomongin kerjaan sedihnyo..), hal-hal remeh lainnya yang kerasa buat orang-orang baper sepertiku (hahaha!).

Keempat, unstandardized benefit. Ini mungkin ya minusnya kerja di start-up. Meski nanti aku akan bikin post kedua yang isinya tentang hal-hal non-serius pas kerja di Traveloka (termasuk benefit), aku rasa ini perlu teaser tersendiri hoho. Ayahku, teman-temanku, pacarku, hampir semua kerja di korporat. Pemberian gaji dan insentif sangatlah jelas menurut level jabatan. Sayangnya, Traveloka belum seperti itu (atau untungnya??). Gaji tiap orang berbeda-beda dimana konsiderasinya hanya orang-orang yang mengurusnya yang tau. Well…. cannot really say much sih karena super sensitif tapi  I will try my best to give my opinion in the second post, as smooth as possible 😉

Kelima, dynamic work environment. Iklim kerjanya sangat dinamis! Meski aku mulai notice ada hal-hal yang mulai tidak ‘dinamis’ (sad gabisa cerita karena case nya sensitif), namun overall kamu sangat punya room untuk melakukan pekerjaanmu sesuai dengan caramu sendiri! Kamu bisa freely discuss dengan manajer tim lain layaknya ke teman sendiri, dan tentu saja minta pendapat soal pekerjaanmu. Kalau kamu punya ide, mudaaah banget untuk mewujudkannya (asal oke ya!), sesuai dengan penjelasanku diatas. Mantap banget buat orang bosenan dan susah diatur kaya aku 😀

Keenam, isinya orang-orang muda! Tentu saja, CEO nya aja baru 29 tahun (mau menangis belum 30 tahun udah sukses, apalah aku ini…). Jadinya, pace company nya pun cepat, dan orang-orangnya masih sangat berapi-api untuk menyukseskan Traveloka.

Traveloka as a career? How?

To be honest gak bisa jawab ini sih karena kan aku mau pergi S2 sehingga belum tau juga prospek karirnya seperti apa. Ditambah lagi, Traveloka saat ini sedang growing jadi struktur organisasi nya bisa jauh berubah dari yang sekarang. Tapi nih, kalau aku ditanya do I see myself have a career in Traveloka if I am not about to have my master degree? Jawabannya tidak.

Tapi, jangan panik dulu.

Tidak nya, karena aku masih mengincar bekerja di Kementrian atau BUMN. Indeed, starting salary-ku mungkin nih lebih kecil dibandingkan Traveloka (tapi doain aja sukses di BUMN nya, jadi tetep bagus income nya aamiin). Tapi, sebagai wanita nih, sampai saat ini sih, aku sejujurnya masih mencari “kepastian” dari employer, aku melihat Traveloka masih sama dengan perusahaan swasta dimana tidak ada yang menjamin bisnismu berlanjut di masa depan, atau, bagaimana retirement plan-mu (jauh banget ya mikirnya?? harus wkwk). So, the chance of settling down is the issue.

Tentu saja ini case by case banget, jadi kalau kamu tanya orang lain bisa beda lagi. Contohnya bosku yang justru bingung kenapa aku mau ke BUMN hahaha (sorry bos!).

Baca part 2 juga ya disini! Ciao!

Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *